Sabtu, 04 April 2015

JOMBLO

Ini senja terpanjang yang pernah ada. Lantaran aku dibuatnya menanti sendiri disini. Disudutkan hingga terjatuh di atas sofa merah kami. Tempat biasa aku dan dia menghabiskan senja. Tapi tidak dengan senja kali ini. Dia berkhianat.

 

Aku tahu udara saat ini begitu dingin. Mataku menangkap lengkung pelangi di sudut langit. Hujan baru saja usai dan dia tahu pasti aku butuh kehangatan darinya. Kenapa kali ini dia memilih mendekap yang lain di hadapanku. Kenapa aku hanya diam memandangi permainannya yang memikat.

 

"Huhhh.... Kamu sudah hampir satu jam main sama dia, belum puas?"

 

Dia memerhatikan setiap kata yang kuucap. Lihat bagaimana dia lalu berhenti sejenak menatap lekat dimataku. Tapi sudah. Sampai disitu dan dia kembali asyik dengan pasangannya. Aku sudah tidak tahan melihat tingkahnya. Pada akhirnya aku bangkit mendekatinya, mengamit tangannya. Tapi dia menolak dan menariknya. Heyyy... Tidak biasanya dia begini.

 

"Kamu apa sih? Aku sudah habiskan 2 cangkir teh menunggu kamu tapi kamu terus asyik dengan dia!"

 

Kali ini dia tidak menggubris. Menoleh kearahku pun tidak. Mungkin dia hampir klimaks.

 

"Padahal dulu kamu yang selalu ngejar-ngejar aku. Padahal dulu aku sebal sama kamu yang bau. Sampai akhirnya aku luluh karna tatapanmu yang mengiba. Sampai aku terlanjur sayang sama kamu. Sampai aku yakin kalau kamu akan selalu ada buat menemani aku. Kapanpun."

 

Yess,.. Dia merespon. Berjalan pelan menuju pelukanku. Hampir sampai namun dia berbalik lagi ketika pasangannya memanggil dengan lembut dan manja. Jijik. Apa sih kuranganya aku. Belum cukup semua perhatian kuberikan untuknya. Shamponya bahkan lebih mahal dari shampoku. Dan itu aku yang belikan!

 

Sudahlah, aku kembali merebahkan tubuhku di atas sofa merah kami. Menghisap batang rokok yang panjangnya tak lagi melebihi kelingkingku. Menjatuhkan abunya di atas lantai padahal ada asbak di meja. Harusnya dia tahu aku kesal.

 

"Aku bisa aja ninggalin kamu kalau kamu masih nggak mau balik kesini. Mau kamu balik lagi ke jalanan mengemis makanan sisa di sekitaran kompleks? Siapa lagi yang mau terima kamu selain aku? Kamu sebatang kara, nggak punya siapa-siapa. HEYY!!" suaraku menggertak mengejutkan dia hingga dia tertunduk takut.

 

Miauww....

 

"Sini kamu kucing nakal!"

 

Akhirnya dia meninggalkan kucing betina itu dan kembali menelusup dalam pangkuanku. Aku memanjakannya, mengusap lembut bulu-bulu halusnya

 

"Huhh...senja ini sudah hampir berganti malam minggu. Kamu temani aku ya puss..."