Terketuk hatiku untuk segera memberinya kebahagiaan. Sesegera mungkin mengambil keputusan. Secepatnya membiarkan dia lepas dari belenggu yang memenjara, itu istilah yang sering diucapkannya. Aku begitu sering mempertimbangkan banyak hal yang selalu mengguncang tali yang menghubungkan antara aku dan dia. Pernikahan. Tentang ego, rasa, cinta. Banyak juga hal lain yang selalu aku pertimbangkan, hal hal yang selalu kembali mengencangkan tali tersebut. Ada tentang aku, ada tentang dia, ada tentang ibuku, ada tentang ibunya, ada tentang anak kami, ada tentang perasaan kami semua. Dan saat ini aku dikalahkan untuk memenangkan ego yang dia bilang perasaannya. Dengan menulikan telinga dari bisikan-bisikan tentang aku, ibuku, ibunya, anak kami dan perasaan kami. Hatiku hanya tak ingin melihatnya lebih lama lagi tersiksa oleh bakti yang dipaksakan. Walau sebenarnya aku dapat menjalani hidup bersamanya dengan tanpa hati. Namun hati ini lama-lama jengah dengan rengekannya agar segera dikeluarkan dari belenggu.
“Ini tentang harga diri.” Ucap sahabatku. Aku pikir memang demikian. Aku sebenarnya bukan lelaki yang suka diusik harga dirinya. Dulu, saat masih duduk di bangku kuliah, saat masih aktif jadi pembalap motor jalanan. Bukan satu atau dua wanita yang siap aku jadikan sekedar pengganti guling. Aku hanya tinggal memilih untuk bisa menikmati. Rasa apapun telah aku coba. Dia yang kurus sekali hingga yang gemuk sekali sebesar drum minyak. Dia yang tak menarik hingga mulus seperti artis. Dia yang harus selalu di traktir hingga yang hanya mengeluarkan uang seratus ribu keatas. Dia yang polos hingga belangsatan. Aku penjelajah, penjelajah janis-jenis wanita. Jadi sejarah mana yang berani memberi kisah bahwa aku harus mengemis untuk sebuah kebersamaan. Kebersamaan yang sebenarnya akupun telah begitu muak.
***
Mengendap-ngendap dia mendekatiku, lewat ibuku tentunya. Ibu, selalu jadi sosok kedua penentu hidupku. Saat itu ibu termakan pesonanya sebagai bakal menantu yang baik. Dia memang pantas jadi wanita idaman meskipun parasnya biasa saja. Wanita dewasa, hanya terpaut dua tahun di bawah usiaku. Punya posisi baik di kantornya dengan penghasilan yang dapat kukatakan cukup untuk menghidupi sebuah keluarga. Garis keluarganya yang baik. Tutur katanya yang sopan dan santun. Kemampuannya di dapur juga tidak dapat dikatakan buruk. Terlihat seperti wanita baik-baik karna selalu menutupi auratnya, walau aku tak pernah menilai baik atau tidaknya seorang wanita hanya berdasar penampilan. Namun ibuku meyakini demikian. Dia juga cerdas mampu membaca situasi. Terbukti dia tahu bahwa ibuku punya peran penting dalam hidupku. Apalagi mengenai jodoh.
Benar, ibu berperan sangat penting. Tanpa izinnya aku takkan mau melakukan sesuatu. Begitu juga balapan di jalan yang biasa kulakukan setiap malam minggu. Ibu yang selalu bertengger jadi penonton setia setiap aksiku. Sejak sore hingga tengah malam. Ibu tak pernah melarang meski terkadang cerewet. Mungkin memang hanya aku yang ia khawatirkan. Ibu tak lagi bersuami entah sejak kapan. Ibu juga tak pernah lagi melahirkan karna memang tak ada lagi yang membuahi. Tapi aku tahu pasti bahwa suaminya tidak pergi karna mati. Dia hanya mematikan diri dari hati ibu dan hatiku, anaknya. Jadi ibu bilang, ibu sangat mencitaiku dan akan selalu mendukung setiap langkahku kecuali kelakuanku yang sering meniduri anak orang. Ibu tahu! Aku tak tahu bagaimana ia bisa tahu.
Begitu hingga aku benar-benar sulit untuk menikah. Aku pemain tapi juga ingin berumah tangga. Berharap semoga ego pemainku luntur jika ada wanita yang selalu menyambut dengan senyum hangat setiap pulang kerja. Menemani malam yang terkadang dinginnya menusuk. Lalu teriakan kecil seorang anak yang memanggilku “papa” untuk menemaninya bermain. Yaa, semoga begitu. Karna itu tidak semua kujalani hubungan dengan wanita-wanita itu tanpa ikatan. Beberapa diantaranya cukup menarik hatiku. Terlebih mereka yang kalem kuanggap juga mampu memberi kasih pada ibuku. Tapi ibu, begitu pemilih tidak satupun dari mereka yang kuajukan disetujuinya. Kurang santunlah, kurang berbakatlah, kurang gregetlah, kurang menarik minatnya yang pasti. Membuatku geleng-geleng kepala, seperti apa yang sebenarnya dia mau.
Akibatnya aku betah melajang hingga usiaku menyentuh kepala empat. Masalah? Bukan. Bergegas kutuang dua sendok makan bubuk kopi ke dalam cangkir. Tanpa menabur gula, aku langsung menuang air panas kedalamnya. Sejak bertahun-tahun lalu kopi pahit sudah menjadi kegemaranku. Menemani malam yang terkadang kubiarkan tanpa pemeluk. Kubiarkan sejenak hingga agak dingin, lalu kuteguk perlahan. Ini sangat penting terutama disaat-saat aku berpikir sangat dalam. Ibu ingin aku menikah. Ia ingin ada seseorang yang mengurusku ketika ia telah tiada. Dan ia ingin aku menikah dengan wanita itu. Wanita yang usianya terpaut dua tahun di bawah usiaku. Wanita yang memang seharusnya nyaris sempurna untuk diajadikan istri olehku. Tapi aku tak tertarik. Aku ingin yang lebih bergairah, untukku dia terlalu kaku. Aku butuh yang mampu menghilangkan penatku setiap harinya setelah seharian bekerja. Aku ingin yang dapat memanjakan juga dapat kumajakan. Tapi ibu ingin wanita itu. Ibuku inginkan dia. Lalu aku harus bagaimana. Kuteguk kopi yang kini hangat di depanku. Mencoba menenangkan pikiran. Menimbang ini itu. Aku tahu aku harus memutuskan untuk menikahi wanita itu. Aku hanya mampu mencari pembenaran bahwa menikahinya adalah juga tepat untukku. Setidaknya untuk ibu.
“ Saya nggak mencintai mas.” Katanya.
Aku terkejut. Jadi untuk apa dia mendekatiku?
“ Karna saya kenal ibu dengan baik, ibu minta saya menikah dengan mas karna pertimbangan usia kita selain karna kata ibu, ibu memang suka dengan saya.”
“ Lalu kamu mau aja?”
Dia mengangguk pelan. Pelan sekali. Sangat kemayu. Membuatku gemas. Bagaimana dengan urusan ranjang? Apakah akan sekemayu ini? Salah-salah semalaman hanya dapat satu kali gol. Aku belum pernah punya pengalaman denga wanita sekemayu ini.
Katanya, dia juga mempertimbangkan usianya yang sudah tidak muda lagi. Hanya saja memang dia terlalu pasif hingga sampai saat ini belum mendapat pendamping, jadi dia pikir mugkin aku adalah jawaban atas doanya selama ini untuk segera mendapat jodoh. Mungkin aku adalah jalan yang diberi Tuhan. Okay,… baiklah. Sebenarnya hatiku agak tertawa geli mendengar kata katanya.
Parasnya biasa dan terkesan kaku. Wajar jika dia belum pernah punya hubungan dengan seorang pria. Tapi menikah dengan tanpa perasaan kusangsikan dapat bertahan. Entah berapa lama akan mungkin dapat dijalani. Dia bilang, cinta adalah proses. Semoga kita dapat saling mencintai setelah menikah nanti. Setidaknya kita bisa belajar untuk itu. Harapannya terdengar tulus bagiku, juga sangat basi dan membosankan. Haruskah aku menikah dengan wanita yang bahkan tidak ingin kusentuh ini. Atau mungkin aku dapat ikut berharap seperti dia.
Tiga bulan berlalu. Tiga bulan yang kurapkan dapat menjadi penjajakan sangat istimewa ternyata terasa menusuk. Aku berhenti menemui teman-teman mesraku. Aku fokus padanya. Belajar membangun sedikit perasaan. Tapi hasilnya tetap saja nihil. Aku tidak menemukan hasrat untuk berdekatan dengannya. Tidak begitu kukhawatirkan mengenai aktifitas ranjang kami kelak. Aku biasa berbuat tanpa perasaan. Namun aku ingin melakukan dengannya atas dasar cinta. Bukan hanya sekedar butuh apalagi coba-coba. Karna saat itu terjadi pasti dia sudah berstatus istriku. Tidak mungkin kan aku bisa melakukan test drive dengannya. Dan tentang kehidupan rumah tangga kami nanti, mungkin hanya akan terasa seperti basa-basi. Itu yang lebih membuatku khawatir.
Kami pun menikah. Dengan tanpa pesta. Hanya ada ijab qobul dan kumpul keluarga. Setelah itu, malam pertama. Baginya tentu saja.
Dan benar saja. Semua terasa hanya seperti memenuhi kebutuhan. Sebatas melakukan kewajiban. Tidak ada kenikmatan batin yang aku rasakan. Tak tahu dengan dia, karna ternyata dia tertidur dalam pelukanku. Mungkin dia menyukai kegiatan datar ini atau mungkin karna baru pertama kali jadi dia tersenyum senang.
Hari-hari kami berjalan baik. Baik karna dia melakukan apa yang seorang istri perlu lakukan. Dia menghormati ibuku, bahkan terkesan menyayanginya. Ibunya pun terkadang menghabiskan malam di kediaman kami. Aku menghormatinya seperti aku menghormati ibuku. Dia menyambutku setiap aku pulang kerja. Seperti yang aku inginkan. Dia memang selalu pulang terlebih dulu dariku karna mungkin lokasi kantornya yang dekat dengan rumah kami. Menyiapkan kopi. Menyiapkan baju ganti. Itu saja. Tanpa pelukan apalagi ciuman yang menghangatkan. Terkadang aku berpikir, aku menikahi seorang istri atau pembantu. Gila. Begitu juga urusan ranjang. Dia baru menyerahkan diri setelah kuminta. Itupun dengan gaya kaku “ Dek, mas lagi mau.” Kemudian dijawabnya “ Iya mas.” Barulah dia bersiap di tempat tidur. Hahahaha…disitu dia lebih mirip seorang selir. Aku tak tahu mengapa, tapi aku tak mampu mengeluarkan jurus kucing garong untuk merayunya. Terpikir konyol olehku jika tahu tahu dia membalas rayuanku dengan tanpa ekspresi.
Mungkin karna kekakuan itu dan dengan gaya-gaya kaku. Tak berselang terlalu lama diapun mengandung. Aku berhasil membuahinya. Aku akan menjadi seorang ayah. Bahagia pastinya, namun bahagia yang biasa-biasa. Selama hamil, dia tak parnah bermanja denganku. Tak pernah meminta ini itu selayaknya wanita yang sedang mengidam. Hanya terkadang aku yang mencemaskannya ketika dia terlihat mual. Dia tidak sama sekali merepotkan, tapi aku ingin sedikit direpotkan. Dalam masa-masa itu, ibuku yang terbawa suasana berlebih. Sangat memperhatikan menantu satu-satunya. Malah terkadang ibu terlihat lebih menganakkan dia daripada aku. Iri? Tentu tidak. Tentu tidak tahu.
Dia merebahkan tubuh di atas ranjang, tepat disebelahku. Tidak sedikitpun dia berucap, hanya kedua tangannya yang mengelus-elus perutnya yang sudah mulai membesar. “Sudah tujuh bulan yah?” tanyaku. “Iya”. Hhaaa….suami macam apa aku bahkan masih harus bertanya berapa usia kandungan istriku. Aku memang tak pernah mengantarnya check up ke dokter. Dia tak pernah meminta dan setiap aku menawarkan diri selalu dijawabnya, “Nggak usah, sama ibu aja.” Yasudah lebih baik meregangkan otot bersama teman mesraku. Sejak dia mengadung aku memang beberapa kali menghabiskan waktu dengan beberapa teman wanita. Aku tak tega memintanya, tapi sebuah birahi terus meminta dituntaskan. Terkadang rasa bersalah menghinggap di benakku. Tapi apa yang dapat kulakukan? Minta maaf seraya mengaku? Hahh…jangan bercanda.
Aku mendekatinya, kupendam semua gengsi yang selama ini membuntuti. Kuletakkan tangan kiriku di atas perutnya. Aku merasakan dalam-dalam, sesekali terasa ada gerakan. Dia mengangkat tangannya, membiarkanku dengan leluasa mengelus perutnya. Sesekali aku menatapnya lalu tersenyum, diapun membalas senyumku. Entah mengapa jantungku berdetak cepat, seperti ada melodi yang kemudian menenangkan. Aku mengecup keningnya dan membiarkan dia tertidur di bahuku. Malam yang dipayungi indah. Aku dan dia terlelap dalam haru hening.
Sayangnya kejadian demikian tak pernah lagi terulang. Tak ada kesempatan atau memang aku atau dia yang tak pernah mengambil kesempatan. Hari-hari terlewati dalam keadaan yang dihangat-hangatkan. Akupun terkesan tidak begitu memantau perkembangan janinnya. Ada ibu yang jauh lebih memperhatikan. Hingga saat dia melahirkanpun aku tak menemaninya. Aku sedang dinas luar pulau. Jujur saja aku ingin menemaninya, melihat detik-detik anakku menghirup udara dunia yang fana. Mengumandangkan adzan di telinganya yang mungil. Namun apa mau dikata, semua malah dilakukan oleh dokter yang membantu persalinannya. Dokter yang baik atau memang semua dokter yang membantu persalinan akan melakukan hal seperti itu. Teman sekantorku bilang, tidak.
Alyssa, gadis mungilku. Telah hadir di dunia ini. Dia mirip aku, matanya yang agak sipit tajam, bibirnya yang tebal di bawah, alisnya yang tebal. Tidak seperti ibunya. Tidak mirip ibunya. Dia anakku. Aku ayahnya. Aku bahagia sekali.
Aku sepatutnya merasa amat beruntung. Memiliki istri yang baik walau sedikit banyak kurang menggairahkan. Memiliki gadis kecil yang lucu, cantik dan pintar. Sejak kelahiran Alyssa, aku tak pernah lagi menyentuh wanita lain. Aku selalu ingin cepat pulang lalu kemudian memeluk gadis kecilku hingga kemudian ibunya. Aku masih belum mampu mencintai istriku, namun kuakui aku begitu menyayanginya. Dalam ketidaktertarikanku padanya, dia menghadiahiku kebahagiaan, Alyssa. Di tengah dinginnya genggamanku, dia memberi senyum yang hangat.
Alyssa tumbuh dengan cepat, seperti inginku, dia menyambutku dengan hangat setiap aku pulang kerja. Ucapannya yang terkadang memekik dan terkadang lembut, “Papa…papa…” membuat lelahku menguap tak lagi terasa. Hanya rewelnya yang sesekali membuatku kesal. Namun ada yang berbeda kurasa dari dia. Wanita yang kunikahi. Tidak ada yang berubah dengan aktifitasnya memenuhi kebutuhanku, melayaniku. Namun kurasa hatinya tak lagi ada ditempatnya. Senyumnya lambat laun lebih terasa seperti basa basi. Begitu juga dengan kegiatan ranjang kami tak pernah lagi diakhiri dengan pelukannya.
Disaat Alyssa memasuki usia tiga tahun, dia memintaku bicara serius. Wanita ini mengajak suaminya bicara serius. Aku terheran. Setelah menidurkan Alyssa, dia mendekatiku. Kami duduk berdua di atas ranjang tempat kami biasa dibasahi peluh. Dia telah menyiapkan kopi panas hitam untukku, kurasa ini sangat penting karna tidak biasanya dia buatkan aku kopi sebelum tidur.
“Mas, saya pikir ini udah harus berakhir.”
Aku tersentak kaget dan mencoba kembali mencerna ucapannya. Berakhir? Ini? Apa?
“Maksud kamu?”
“Pernikahan kita.”
Aku terbelalak, bertanya-tanya mengenai apa yang sebenarnya dia pikirkan.
“Coba kamu jelasin lebih jelas, aku nggak ngerti.”
Dia mencoba menjelaskan pelan-pelan, mungkin takut aku terlalu kaget lalu terbawa emosi hingga tak mampu menahan amarah. Dia tidak menginginkan pernikahan ini sepertiku, aku tahu itu. Tapi kami sudah menjalaninya, bahkan sudah ada Alyssa. Lalu bagaimana dengan ibuku, ibunya, anak kami. Kenapa tidak dari dulu. Kemudian dia mengungkapkan bahwa dia sudah berusaha semampunya namun tidak bisa lagi untuk lebih lama. Dia bilang dia mengetahui kelakuanku saat dia mengandung, mengenai teman-teman mesraku. Wang parfum yang bergati-ganti. Dengkuran lelahku seperti setiap kali usai menidurnya. Namun dia tetap diam karna menghargai ibu. Dia juga tahu pasti bahwa aku tak mencintainya, begitu juga dia yang tidak bisa mencintaiku.
Dia mulai meneteskan air mata, wajahnya tertunduk. Akupun sangat malu. Dia berucap lagi bahwa sudah benar-benar berusaha mencintaiku namun apa yang kulakukan membuat usahanya kian sia-sia. Aku menggenggam tangannya dan berusaha meyakinkan bahwa sejak tiga tahun lalu aku sudah tak lagi menyentuh mereka. Kuucapkan bahwa aku mulai menyayanginya dan begitu mencintai Alyssa. Namun dia tetap diam. Kami tenggelam dalam bisu hingga kemudian dia bilang, dia telah menyematkan hatinya pada pria lain. Tangisnya kian pecah. Aku menarik tanganku dan terdiam kaku.
“Dokter itu?” Dia mengangguk.
Malam itu membawa perubahan besar dalam hati kami, hatiku tentu saja. Dia tetap melayaniku seperti biasa, namun aku tak pernah lagi mencoba menyentuhnya. Sapaan kami terasa begitu basi. Kurasa ibu mulai menyadari kecanggungan diantara kami. Ibu memang belum mengetahuinya. Dia memintaku bicara dengan ibu. Tapi aku belum siap. Ibu pasti akan sangat kecewa. Dan aku tak siap menerima kekecewaan ibu.
Dalam hari-hari setelahnya, dia selalu menanyakan “kapan”. Aku selalu menjawab “sabar dulu”. Baru kali ini seorang wanita meminta lepas dariku dan dimana aku harus meletakkan harga diriku jika tetap mempertahankannya. Aku pikir keadaan seperti ini tak bisa lagi diperpanjang. Aku tak mampu mengetahui bahwa istriku memadu kasih dengan pria lain. Meski aku tak mencintainya namun dia tetap istriku. Meski aku seringkali bermain di belakangya bukan berarti aku akan menerima jika dia bermain hati dengan yang lain. Tidak. Aku tidak bisa mempertahankan yang seperti ini.
Aku mengetuk pintu kamar ibu perlahan, ia membukanya dan mempersilahkan aku masuk. Aku duduk di sisi tempat tidurnya sedang ia duduk di kursi meja riasnya. Kusampaikan keinginanku untuk bicara tentang rumah tanggaku dan dia. Ibu tiba-tiba berucap sesuatu yang tidak terlalu membuatku terkejut. Ibu memang jeli dan pandai membaca suasana.
“Ibu sudah tahu.” Ucapnya.
Akupun tak banyak bicara, tidak juga mengenai alasan dia meminta bercerai dariku. Hanya kuucapkan bahwa semua ini salahku karna bermain kotor dengan wanita lain. Tidak kuungkit sedikitpun mengenai pria yang telah mencuri hati istriku. Ibu ternyata selama ini memiliki ketakutan yang sama denganku. Ketakutan bahwa pernikahan ini hanya akan berumur singkat, seumur jagung. Ia mengerti benar sifatku yang memang sulit. Ibu menerimanya dan tidak terlalu terpukul namun diucapnya bahwa ia sangat kecewa. Aku memohon maaf padanya, mencium tangannya dan memeluknya. Kurasakan air matanya menetes, tidak banyak namun sangat membunuh hatiku. Ia hanya mengkhawatirkan aku di kemudian hari, saat tak ada lagi yang marah-marah untuk mengingatkan aku dengan kelakuanku yang buruk. Saat tidak ada lagi yang mengurusku. Namun aku menenangkan, toch..aku telah memiliki Alyssa, seorang putri yang tak mungkin akan lupa akan ayahnya. Diapun, istriku, berjanji akan tetap menjaga tali silaturahmi diantara kami. Tak ada mantan bapak, katanya.
Bebanku berkurang. Setelah aku memberi tahunya bahwa aku telah bicara pada ibu, dia langsung menemui ibu. Mungkin meminta maaf karna kudapati matanya sembab ketika kembali ke kamar.
Kini keadaan kembali seperti empat tahun yang lalu. Tanpa suara teriakan anak kecil yang menyambut ketika aku pulang kerja. Dengan kopi yang kubuat sendiri, aku melayangkan pikiran seraya duduk santai di depan meja kerjaku. Berpikir tentang Alyssa dengan kelucuannya. Berpikir tentang dia yang kini tidur dalam pelukan pria lain. Tiba-tiba ibu masuk membawakan sepiring nasi goreng kegemaranku. Kami berbincang, bencanda, tertawa. Hingga akhirnya ia terlelap di tempat tidurku. Aku berbaring di sebelahnya, memandanginya. Berharap Ibu takkan pernah pergi meninggalkanku.