Kamis, 11 Februari 2016

Sehelai jilbab buat bapak

Malam itu bapak masuk ke dalam kamar dimana Salimah sedang terlelap tidur. Bapak duduk di sisi tempat tidur. Membelai kepala Salimah dengan lembut seraya berkata lirih meminta maaf pada putri semata wayangnya itu.

"Maafin bapak, Salimah."

Hati Salimah sakit. Ia tak mampu membuka mata apalagi mengucap kata. Ia tak mampu menahan air matanya. Dalam hatinya ia tahu ini bukan salah bapaknya. Perceraian itu terjadi lantaran ia tak mampu mencegah ibunya bergaul terlalu intim dengan lelaki lain. Sialnya, ia pun tak mampu meminta pertolongan bapaknya. Karna di matanya ada bayang-bayang perceraian kedua orang tuanya jika bapaknya mengetahui ketidaksetiaan ibunya. Tapi itu harus dicegah dengan tutup mulut. Dan ternyata dia salah. Ternyata kebohongan, cepat atau lambat akan ketahuan. Maka perceraian itu pun benar-benar terjadi.

Salimah tahu apa yang harus dia lakukan terhadap sehelai kain persegi merah muda di hadapannya. Tanpa buang waktu ia segera menudungi rambut kuncir kuda kesayangannya. Tapi belum juga lima menit ia menatap dirinya di cermin, tangannya sudah gatal menarik kerudung itu. Huhhh..Salimah belum juga mantap rupanya.

"Aku nggak terlihat cantik kalau rambutku ditutup." Cermin rias lonjong dihadapannya menangkap kegelisahan di wajah oval Salimah.

"Nanti aja deh kalau udah siap."

Salimah meraih tas jinjing di atas tempat tidurnya. Siang ini ia ada kelas matematika di kampus. Ia tak menyentuh telur dadar yang sudah disiapkan bapaknya sedari pagi. Takut kesiangan, batinnya.

"Sal, papahku kritis." Widya memeluk Salimah. Ia tak menangis saat itu namun wajah sembab serta mata kodoknya menunjukkan jika ia sudah kenyang menangis semalaman.

Salimah membalas pelukan Widya. Ia tidak tahu apa kata yang harus terucap dari bibirnya. Lidahnya kelu teringat bapaknya sendiri. Satu-satunya keluarga yang ia miliki setelah ibunya menikah lagi dengan lelaki lain. Seseorang yang sangat ia cintai. Ia tak terbayang bagaimana perasaannya jika bapaknya kritis seperti papah Widya.

"Aku nggak tahan lihat papak kesakitan jadi mendingan aku datang ke kampus aja."

"Dokter bilang apa?"

Widya mengangkat bahu. Mengusap setetes air mata yang mengalir di pipinya.

"Aku nggak tahu. Yang aku tahu papah kritis. Mamah udah panggil pendeta ke rumah sakit."

"Selesai kelas statistik kita jenguk yuk."

Widya mengangguk setuju.

Dibalik jendela kaca itu terbaring seorang pria tua yang jauh lebih gemuk dari bapaknya Salimah. Ia bernafas dengan bantuan oksigen dan ditubuhnya ditempeli beberapa kabel yang terhubung ke sebuah mesin.

Salimah duduk di ruang tunggu. Disana ada mamahnya Widya yang meski tak mampu menutupi raut kelelahan dan sisa-sisa tangisan di wajahnya namun berusaha tetap tegar. Disana juga ada keluarga besar Widya, mereka sedang membentuk sebuah lingkaran sambil berdoa untuk kesembuhan papah Widya.

"Mamah nggak pulang-pulang sejak papah masuk rumah sakit. Udah sekitar seminggu." Kata Widya setelah doa selesai dilakukan.

Salimah tiba-tiba teringat bapaknya. Beberapa waktu lalu bapaknya sakit, tekanan darahnya tinggi. Kala itu tidak ada sosok istri yang merawat. Hanya ada ia, itupun seringkali harus meninggalkan bapaknya karna sedang ujian. Terkadang bapaknya merebus timun sendiri untuk menurunkan tekanan darahnya. Terkadang juga bapaknya harus pergi berobat sendiri ke dokter. Salimah terhanyut dalam kesedihannya.

"Aku nggak mau papah cepat-cepat pergi. Aku belum sempat ngebahagiain papah."

Salimah mendekap Widya dalam pelukannya. Sahabatnya kembali sesenggukan dengan tangisannya. Salimah tak mampu berkata-kata. Ia malah kembali teringat akan bapaknya sendiri. Ia tak mau mengalami apa yang terjadi pada Widya. Ia tak mau terlambat apalagi tak sempat membahagiakan bapaknya.

"Assalamualaikum." Ucap Salimah sambil membuka pintu rumahnya.

"Waalaikumsalam." Salimah mencium punggung tangan bapaknya. Lalu duduk di sebelahnya. Bapaknya sedang mengoreksi kertas ulangan murid-muridnya.

"Makan dulu, bapak buat sayur lodeh sama ayam goreng."

"Pokoknya mulai hari ini bapak nggak boleh ngerjain semua kerjaan rumah. Salimah aja yang ngerjain."

Bapak Salimah menatap putri kesayangannya itu dengan penuh rasa heran. Namun kemudian ia kembali tersenyum. Rupanya ia memahami betul apa yang mungkin sedang dipikirkan oleh putrinya.

"Kamu itu masih tanggung jawab bapak. Dunia akhirat. Kalau kamu terlampau sibuk atau sakit nggak sempat masak sampai kelaparan. Nggak mungkin bapak diam. Itu nggak benar. Kita jadi tim aja seperti selama ini. Saling bantu mengurus rumah. Bapak masih sehat kok dan bapak ikhlas. Kalau bapak udah nggak bisa, baru deh kamu yang urus bapak. Boleh?"

Salimah tak berkata-kata. Hanya matanya berkaca-kaca. Sekuat tenaga ia menahan haru. Ia mengulas senyum sambil mengangguk pasti. Lalu bergegas kembali ke kamarnya.

Salimah meraih jilbab persegi merah muda yang tadi pagi dilipatnya. Menudungi kepalanya, ia menatap dirinya dalam cermin. Kini ia telah mantap untuk membahagiakan bapaknya. Dunia akhirat. Dengan menutup aurat dengan harapan membawa bapaknya ke surga kelak.

Selasa, 19 Januari 2016

Itu gue, Sinyo!


“Sejumlah siswa kelas tiga terlibat baku hantam dalam lift sekolah akibat gas buangan (kentut) yang tidak diakui pemiliknya”
“Mantaapp…hahah…” Abel tertawa terbahak dengan perasaan puas memandangi artikel mading buatannya yang sekarang sedang menjadi trending topic di sekolah. Aku menyentak-nyentakkan kaki ke lantai sambil memegangi lebam di pipi kananku yang sakitnya mencubit-cubit.
“Kalo gini gue bisa jadi tertuduh pelaku kentutnya Bel.. Sahabat macem apa lo! Harusnya nggak usah disebut soal gas buangan itu atau minimal jangan dijadiin judul deh..” Kataku memelas. Wajah Abel berubah garang.
“ Perjuangan gue buat dapet cewek bisa jadi sia-sia gara-gara artikel lo ini.” Kataku lagi.
“Buat orang-orang, lo itu tertuduh. Buat gue lo positif pelaku hahaha…lo kira gue nggak tau siapa lo.” Abel menjulurkan lidahnya kearahku.
“Lagian diet dulu kalo mau dapet pacar. Kan kasian cewek yang pacaran sama lo, kalo naik bajaj berdua bisa-bisa kempes kejepit badan lo”
Jleb!
Aku mendesah pasrah mendengar ucapannya. Tapi Abel harus mendengar penjelasanku agar dia mau ikut terlibat dalam perjuanganku mencari cinta. Ada niatan mulia yang harus aku realisasikan yaitu mengentaskan status jomblo cewek cantik.
“Bel…” Aku menarik tangan Abel duduk di tepi koridor depan kelas. Aku menghela nafas panjang. Meyakinkan diri akan maksud baikku yang kupastikan kebenarannya.
Aku selalu yakin cewek bukan butuh cowok setampan Gu Jun Pyo atau setajir Gayus. Tapi cewek cuma butuh perhatian tulus yang apa adanya dan seadanya. Dengan memacari cewek cantik aku bisa menginspirasi semua cowok dan cewek gendut untuk tidak lagi rendah diri. Kami punya kelebihan lain yang memikat selain berat badan yaitu hati yang tulus. Aku akan buktikan itu!
“Gaya lo lebay!” Seru Abel saat aku mengungkapkan niatan heroikku. Aku menatapnya tajam. Dia mendelik dan tersenyum kecut.
“Gue serius Bel! Langkah gue ini pasti menginspirasi bukan cuma genduters deh.. tapi juga semua orang yang kejelekannya mutlak. Pasti ada harapan.” Kataku bangga.
“Hmm…” Abel berdehem lama. “ Siapa yang mau lo deketin?”
Yess! Tanggapan Abel menuju positif.
“Sasha, menurut lo?”
“Hahh Sasha temen sebangku gue?”
“Iyaa..bantu gue yah… kasih info-infonya aja. Nanti gue PDKT sendiri pas jam-jam istirahat. Selesai drama B. Indonesia baru gue tembak dia.”
“Hmm…3 bulanan lagi dong?”
“Iya, bantu gue yah….”
“No way!” Dia bangkit dari duduknya.
“Usaha sendiri! Hmm…update ke gue yah perkembangannya.” Sambungnya lagi seraya mengeloyor pergi.
***
Aku juga selalu yakin kalau cewek tidak melulu suka dengan kata manis dan romantis ala para dewa seantero Merkurius sampai Pluto. Apalagi rayuan murah khas tukang obat kaki lima yang bikin mual-mual. Menurutku kebanyakan cewek suka dibuat penasaran. Karna itu banyak cewek suka cowok yang terkesan cool dan misterius padahal kencing aja belum tentu lurus. Fiuhhh...
Berhubung cewek gebetanku ini teman satu sekolah yang kemungkinan akan langsung kabur kalau tahu aku yang sedang mengincarnya maka lebih baik kalau aku pakai tekhnik pendekatan gerilya. Meskipun katanya sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Selama melompat aku akan dan harus sudah berhasil membuanya nyaman dengan keberadaanku sampai lengket tak mau lepas bahkan jika aku kentuti. Sip!
“Hai, sms gue duluan dong malam ini.” Aku mengekeh kecil saat membaca smsnya. Jam di dinding kamarku sudah menunjukkan pukul 09.30 malam.
Tuhh kan baru sebulan setelah aku memproklamirkan niatan muliaku, sekarang gebetanku sudah mengisyaratkan tanda-tanda nyaman.
“Gue makin penasaran sama lo. Kita satu angkatan. Sekelas. Ayo dong ngaku siapa? Udah hampir sebulan masa kita mau sms-an terus, kapan ngobrol face to facenya? Gue ajak telp juga nggak mau. Gue minta pin BB atau whatsapp juga nggak mau. Kasih tau ciri-ciri deh biar gue bisa ngira-ngira.” Belum sempat aku balas smsya, dia sudah mengirimiku sms lagi. Woww...analisaku tepat, cewek memang suka dibuat penasaran.
Hmm…aku bangkit dari tempat tidur. Berdiri di depan cermin besar yang menempel di pintu lemari. Aku menarik kaos yang kukenakan sedikit keatas.
Dua bidang bahu, dua bidang dada, satu buah perut bulat dan satu bagian di bawah perut. Okay…
“Gua sixpack, dan gue yakin itu!” Sms singkat penuh percaya diri segera kukirim padanya.
“Tapi gue kan nggak bisa liat sixpacknya badan lo. Kecuali lo mau topless ke sekolah. Gimana? Hehe…”
Iya sih…bodoh! aku nyengir manis. Kalau kusebut badanku subur kemungkinan besar akan ketahuan karna stok cowok gendut di kelas sangat terbatas. Lebih baik gunakan kata-kata yang cenderung aman.
“Gue putih, tinggi.”
“Hampir semua cowok di kelas kita itu putih tinggi. Lo yang mana?”
“Hmm… pastinya gue nggak lebar kayak Yopi.” Hehehe.. aku gendut tapi Yopi sedikit lebih gendut jadi bisa dibilang kalau aku tidak bohong. Kira-kira beratnya satu kilo diatas berat badanku.
“Ohohoho…tau ah gue masih clueless. Jadi kapan lo mau muncul ke permukaan. Jangan ngumpet terus dong.” Balasnya.
“Nanti kalo lo udah mau cukur bulu ketek, bukan cuma ketemu tapi lo langsung gue tembak.”
Ini cewek langka. Aku tahu pasti, tepatnya sering mengintip celah lengan bajunya, kalau dia punya rambut lebat di ketiaknya. Dan dia paling malas cukur-cukur.
“Lohh kok tau?”
Heheh..dia penasaran.
***
Dan aku tahu dengan seyakin-yakinnya kalau cewek itu paling suka diberi kejutan. Makanya banyak program reality show semacam pernyataan cinta diam-diam atau lamaran diam-diam. Ini pun berdasarkan clue yang kudapat hasil survey di kelas bahwa dari 26 orang cewek yang ada hanya satu yang tidak suka kejutan yaitu Sasha.
“Sasha!”
Aku memanggilnya dari sudut kelas. Sasha mendekatiku. Sebulan belakangan ini kami hampir selalu menghabiskan waktu istirahat bersama. Kecuali jika dia sedang berhasrat ingin pup karna biasanya itu makan waktu setengah jam dan kupastikan rutin 3 hari sekali. Kami duduk di koridor depan kelas.
“Beres?” tanyaku meyakinkan.
“Apanya yang harus diberesin sih? Tinggal tembak aja. Harus siapin apa?”
“Iya sih… gugup aja gue. Lo yakin kan dia excited sama sms-sms gue?” Aku menunduk penuh kecemasan. Sasha menepuk bahuku pelan tapi itu tidak membantu.
“Tenang! Pede! lo udah berhasil buat dia nyaman. Dia cerita gitu sih ke gue. Buktinya dia mau smsan sama lo intense gitu. Dia kan cuek banget. Berarti lo udah setengah berhasil.”
Kata-kata Sasha membatku sedikit tenang.
“Okehh… selesai drama B. Indonesia gue bakal langsung nembak dia. Doain gue yah Sha.” Ujarku.
“Okehh juga” Kami berjabat tangan seperti nasabah yang baru membeli polis asuransi dari seorang marketing. Deal!
***
Dan aku dengan pasti dan yakin sangat benci kegugupan. Ini membuatku mulas dan berhasrat ingin buang gas. Karna terlalu gugup aku jadi lemas dan dengan kaki berselonjor kedepan hanya bisa duduk di kursi pojok kelas.
“Nyo, kenapa lo? lo sama bumil nggak ada bedanya.” Dion mendekat dan mengambil tempat di kursi sebelahku. Dia menunjukkan ekspresi kekhawatiran sebagai ketua kelas. Tapi…
“Sana… sana lo… gue lagi mau sendiri.” Dion ngedumel mendapati responku. Dia beranjak dari duduknya meningalkanku yang masih merenung memperhatikan jalannya drama. Sebentar lagi. Sebentar lagi Sang Pangeran akan menyatakan cinta pada Cinderella. Dan kemudian giliranku.
Brutt! Aku kentut.
Cinderella maukah kau menikah denganku?
Lalu Cinderella memandangi Sang Pangeran dengan wajah malu dan senyum asam manis.
Iya pangeran, aku mau…
Ya! Ini giliranku! Aku melirik pada Sasha. Dia sudah melirikku terlebih dahulu. Lalu kami saling mengedipkan mata ala emotikon yang disebut winking. Aku maju ke depan kelas diikuti Sasha seraya menarik tangan Abel. Sasha membawanya ke hadapanku. Seisi kelas riuh. Tapi mereka bersedia menepi. Ada yang mengucapkan ciee… prikitiw… atau melakukan sesuatu yang selama ini tak pernah bisa kulakukan yaitu bersiul cuitt cuitt..
Bu Amel, guru Bahasa Indonesia kami hanya terbengong sambil mengerenyitkan dahi. Bersandar pada meja guru.
Semua sudah menyingkir. Hanya ada aku dan Abel di depan kelas. Semua tiba-tiba hening menatap kami sesaat setelah aku berdehem. Abel sendiri kebingungan.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Memandangi Abel dengan tajam. Dibalas oleh pelototan mata bulat Abel. Aku sedang menjadi Arjuna pencari cinta tanpa panah dan busur. Tanpa coklat dan bunga. Tepatnya ketinggalan di rumah.
Dag! Dig! Dug!
“Bel…gue mau lo jadi pacar gue!” Kataku cepat dan lantang.
Seisi kelas riuh kembali. Mereka bersorak-sorai seperti sedang menonton konser dangdut. Kerenyitan di dahi Abel terlihat semakin dalam.
Kayaknya gue salah nih!
“Eh…Bel gue suka sama lo. Mau nggak lo jadi pacar gue?” Aku mengulangi penembakanku. Nafasku tersengal seperti terhenti diantara paru-paru dan kerongkongan.
Abel masih diam. Kerutan di dahinya menghilang. Ekspresinya lebih datar.
“Bukannya lo mau nembak si Sasha? Kok jadi gue?” Akhirnya Abel mengeluarkan suara. Dia melirik tajam kearah Sasha yang sedang duduk di bangku baris ke dua menyaksikan kami. Sasha nyengir membalas lirikan tajam Abel.
“Lagian kita itu sahabat jadi nggak mungkin pacaran.” Katanya lagi.
“Justru Sasha yang bantuin gue. Bel…”
“Jadi yang sms gue selama ini…” Tanyanya penuh selidik.
“Iya! Itu gue, Sinyo!”
Aku menarik tangan Abel. Membawanya ke koridor depan kelas. Semua teman, hampir seisi sekolah mengintip di balik jendela. Beberapa berkerumun di bingkai pintu. Tidak terkecuali Bu Amel yang ikut terselip di antara kerumunan di bingkai pintu.
“Lo tunggu di sini. Gue buktiin cinta gue ke lo. Gue bakal lakuin apa yang selama ini lo suruh ke gue tapi nggak pernah gue lakuin. Lari pagi!”
“Tapi ini siang.” Sergah Abel.
“Yaa…pokoknya yang penting lari. Gue bakal bakal lari keliling lapangan tiga kali. Di setiap gue sampe di depan lo, gue kasih tau lo alasan-alasan kenapa gue sama lo bisa dan mungkin banget pacaran.” Ucapku terengah-engah karna gugup. Abel masih saja memasang wajah dingin.
Putaran pertama!
Aku berlari santai kurang lebih sepuluh menit. Wajahku merah. Ketiak basah kuyup. Keringat membasahi seragam. Ngos-ngosan. Bau badan, mungkin ketiak mulai asam.
“Satu! Karna lo dan gue adalah sahabat yang udah saling ngerti. Bisa terima kelebihan dan kekurangan masing-masing!”
Putaran ke dua!
Aku berlari lebih santai dengan empat kali berhenti untuk menarik nafas selama lebih kurang tiga belas menit. Mungkin lebih lima menit. Wajah nyaris gosong. Mata merah berair. Mandi keringat. Kaki kaku karna kecapekan. Ngos-ngosan jangan disebut lagi. Ini ngos-ngosan stadium tiga. Nafas hampir putus.
“Duah! Karnah lo udah nyamanh sama gueh. Lebih dari sahabat. Gue tau itu!”
Putaran ke tiga!
Lari terseok-seok. Tampilan muka abstrak. Baju basah lepek amburadul. Nafas seperti tinggal tersisa di pangkal kerongkongan. Ini baru bisa disebut setengah mati.
“Tigahh…” Kataku dengan suara tersengal-sengal.
“Karnaah loh dan guehh..sad..harh atau ngaahh. Kitahh sah..linghh sehhayangghh.”
Aku menarik nafas dalam. Mengaturnya agar tidak benar-benar berhenti.
“Tau dari man..”
“Bel!” Seruku cepat memotong keraguan Abel.
“Since everything about you, me and us has been our concern. We are more than you used to think. We’ve touched the love.” Kali ini suaraku lebih tenang dari sebelumnya. Rasanya plongghh…
Semua yang menyaksikan riuh kembali. Beberapa ada yang terharu. Aku memandang Abel penuh harap.
Tiba-tiba Abel tertawa terbahak-bahak. Membuat semua yang semula riuh berubah hening. Aku pun melongo keheranan.
Apa cewek kalau ditembak sahabatnya sendiri bisa jadi gila? Kasian Abel.
Kini giliran Abel yang mendekatiku. Dia lalu menarik tanganku. Kami duduk di tepi koridor. Aku masih belum mengerti apa maksudnya.
“Lo bau keringet.” Katanya setengah berbisik.
“Iyalah, masa bau bensin.” Aku nyengir.
“Hahah…kita sahabatan udah tiga tahun. Dari kelas satu gitu..” Abel menepuk bahuku keras. Aku meringsut menahan nyeri.
“Lo kira gue nggak kenal gaya sms lo! Ya gue tau lahh itu lo. Tapi gue diemin aja. Gue mau liat gaya lebay lo sampe mana.” Abel tertawa ngakak. Aku Cuma bisa diam pasrah.
“Jadi?” Tanyaku memastikan keputusannya.
“Tapi gue belum cukur bulu ketek.” Bisiknya di telingaku.
“Nggak apa-apa. Bener deh...”
“Sipp…lo sukses macarin cewek cantik!”
Hahh… aku speechless. Hanya bisa memandang wajah Abel yang juga memandangiku dengan senyum tersungging di bibir tebalnya. Aku ingin memeluk Abel tapi takut dijewer Bu Amel yang masih memperhatikan kami. Hahah..akhirnya kami hanya bisa saling menertawakan kesalah tingkahan kami masing-masing.
Ciee…prikitiw…cuitt cuitt… seru teman-teman. 
Bruutt!
Plaak!
Kesan pertama pacaran dengan Abel. Tangan merah dikeplak karna mengentuti. Aku gugup…

Surat



“ Jangan lupa suratnya di kasih ke ibu kamu yah”
Aku mengangguk seraya menerima sebuah amplop panjang berisi surat yang disodorkannya. Ibu guruku. Terurai senyum semanis wajahnya. Alisnya tidak berkerut apalagi mengangkat akibat mata yang dibelalakkan. Kepalanya ditutupi jilbab warna senada dengan pakaiannya. Tergurat kesan kasih dari figurnya yang keibuan. Tergumam kata anggun dari hatiku yang tak pernah bicara lantang. Segera, aku mencium tangannya -wangi-, kemudian keluar dari ruangan yang jadi tempat singgahku setiap tiga bulan sekali, Tata Usaha.
Di luar hujan sangat deras. Petir dan kilat seolah berlomba manarik perhatian. Mereka berkecamuk mencari sesuatu yang sudah banyak dilupakan kebanyakan orang. Perduli. Alam ini masih lebih beruntung dapat berekspresi demikan. Berupaya mendapatkan apa yang diinginkan. Sedangkan aku, tidak tahu harus berbuat apa. Berekspresi sebrutal ini bisa-bisa malah akan membuatku jatuh terjengkang. Terhempas apatis yang aku emis perdulinya. Alih-alih mendapati perduli, salah-salah aku hanya akan dipukuli. 
Buat apa?
Buang-buang tenaga. Buang-buang air mata. Yang dapat kulakukan saat ini hanyalah termenung. Mmmm....tepatnya berpikir keras dibalik jendela kelas. Tentang bagaimana aku dapat berlari pulang ditengah hujan deras. Tentang bagaimana aku menyerahkan amplop ini untuk ibuku yang keras. Tentang bagaimana aku kembali ke pelukan seseorang dan memelas.
Tanpa menerka-nerka, aku sudah tahu pasti apa isi surat yang ada di dalam amplop ini. Tak henti aku membolak bailknya. Rasanya ingin kubuang ke dalam tong sampah lalu berpura-pura tidak ingat akan keberadaannya. Tapi... bu guru pasti akan menanyakan esok hari apakah surat yang dititipkannya padaku hari ini telah diserahkan pada ibuku atau belum. Aku bisa saja berbohong dan mengatakan “sudah”. Namun yang ingin dipastikannya -aku sangat yakin-- adalah bukan surat yang telah sampai ke tangan ibuku atau belum. Melainkan tanggapan ibuku tentang isi surat itu. Yang tidak lain merupakan sebuah pertemuan yang diharapkannya. Lebih dari itu, aku juga tak tega membohonginya. Melihat wajah teduh yang selalu aku impikan untuk dapat dilihat dari ibuku. Membuatku merasa mungkin aku lebih pantas berbohong pada ibuku yang galak daripada ibu guruku yang lembut. Aku tertunduk lemas. Berpikir keras tentang sesuatu yang tak ingin kupikirkan dan itu membuatku lelah. Aku memang seharusnya tidak berpikir tentang bagaimana-bagaimana lagi. Semua sudah pasti. Sudah pasti bahwa aku memang harus berlari basah kuyup untuk sampai pulang ke rumah. Sudah pasti bahwa aku nanti malam harus segera menyerahkan surat itu, lagi-lagi, pada ibuku di rumah. Dan sudah pasti bahwa aku, lagi-lagi, harus menyiapkan kapas untuk menyumbat telinga nanti malam.
Teeetttttttt…………………….
Teeettttttttttt……………………………
Sorak sorai terdengar riuh ketika bel sekolah mengagetkanku, membangunkanku dari lamunan. Mereka semua bergembira menyambut kebebasan sementara. Sebelum akhirnya terpenjara lagi di dalam kelas esok hari sejak matahari terbit hingga siang menjelang. Padahal hujan masih sangat deras. Kilat masih menyambar sana sini. Ada beberapa dari mereka yang menunda pulang dan berteduh di sekolah. Apa mereka punya ketakutan yang sama denganku? Takut besok tak dapat sekolah karna seragam yang belum kering atau sepatu yang masih kuyup. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Ada juga beberapa dari mereka yang menerobos hujan tanpa takut dengan petir yang mengintai. Ada juga mereka-mereka yang dijemput orang tuanya sekedar dengan sebuah payung lalu jalan kaki pulang. Atau dengan motor dan mobil yang tak kuketahui jenis apa kendaraan-kendaraan itu biasa disebut. Sebenarnya aku ingin seperti mereka yang dijemput oleh orang tua atau saudaranya. Tapi sepertinya nasibku mengatakan bahwa aku harus ikut nekat menerobos hujan menantang petir untuk segera sampai di rumah. Aku bahkan tak bisa mengambil pilihan untuk berteduh hingga hujan reda. Banyak pakaian harus kucuci di rumah. Banyak piring dan gelas yang masih berlemak. Banyak debu yang minta dikeluarkan dari tiap sudut rumah. Mereka menungguku. Apa boleh buat.
Aku melangkahkan kaki dengan cepat. Membuat genangan air terpijak terlalu keras hingga bersuara agak nyaring. Melebihi suara rintikan hujan yang sedari tadi menghantam kepala dan tubuhku. Air yang kupijak memecah setiap kali terhantam. Membuat sebagian menerpa kakiku hingga ke dasar rok. Sambil berlari sambil aku berpikir dan berdoa berharap kaus kakiku segera kering setelah aku cuci sesampainya di rumah nanti. Semoga Tuhan mendengar doaku.
“Astagaaa…….”
Terburu-buru dia menarikku masuk ke dalam rumah. Kenapa dia ada di depan pintu ketika aku pulang. Berdiri bersandar seperti menunggu atau mencari sesuatu di luar sana. Apakah dia menungguku. Ibuku menungguku pulang! Mungkinkah? Seharunya dia sudah pergi bekerja sejak pagi tadi hingga nanti larut malam. Tapi siang-siang begini dia masih di rumah. Apa dia sakit? Sepertinya tidak. Tergesa gesa dia melucuti pakaianku hingga kaus dan celana dalam saja yang tersisa di tubuhku. Disuruhnya aku mengeringkan buku-bukuku. Juga disuruhnya aku segera mandi. Agar tidak sakit, katanya. Dia sendiri pergi ke belakang membawa pakaianku. Terdengar bunyi air dan gesekan antara sikat dan gilesan. Aku ge-er. Sepertinya dia benar-benar memperhatikanku. Sepertinya dia benar-benar mencintaiku. Aku menyesal sempat berpikir bahwa dia lebih pantas dibohongi daripada ibu guruku. Aku salah.
“Bu kenapa hari ini nggak kerja?”
Selesainya aku mengeluarkan buku dari tas dan menjemurnya di atas meja setelah sebelumnya mandi, aku beranikan diri bertanya padanya. Tapi sebelum itu harus kupastikan bahwa hatinya sedang dalam keadaan baik atau setidaknya tenang. Saat ini dia sedang duduk dan menyeruput kopi hitam pahit kegemarannya. Sambil sesekali menghisap rokok yang panjangnya sudah tidak lebih dari setengah telunjuknya. Beruntungnya dia tidak marah mendapati pertanyaanku. Dengan tenang dia menjawab,
“Berenti”
Aku terkejut benar, namun coba kusembunyikan keterkejutan itu dalam nafas yang kutarik panjang-panjang dan kuhembus perlahan. Dengan, hati-hati aku bertanya lagi,
“Kenapa?”
“Hmmhhhh.... tau ahh, tenang aja kita pasti masih bisa makan."
Dia salah jika menganggapku dapat tenang. Aku butuh lebih dari makan. Aku butuh uang sekolah, uang buku, uang alat tulis, uang seragam. Kepada siapa aku harus berharap semua itu jika dia tak lagi bekerja. Meski hanya menjadi pelayan warung makan, namun penghasilannya dapat sedikit-sedikit menyokong keperluanku. Sedangkan dia tak pernah mengizinkanku bekerja untuk membantu. Bagaimana ini Tuhan?
Hingga malam aku duduk-duduk bersama ibu. Tak ada yang kami lakukan. Padahal aku tahu dia sedang pilu. Aku tahu dia sedang memikirkan apakah besok akan ada uang untuk makan atau tidak. Lagi-lagi, aku termenung. Terbengong memikirkan hal yang tak mampu aku pikirkan. Aku ingin bertanya bagaimana pada ibu, tapi aku takut dia marah. Mungkin saat ini aku lebih takut pada ibu daripada Tuhan. Lalu aku teringat dengan surat yang tadi siang dititipkan ibu guru untuk ibu. Surat itu dibuat lantaran tunggakan SPPku yang sudah tiga bulan. Lagi, hatiku bertanya bagaimana. Bagaimana menyerahkan ini pada ibu sekarang. Saat ini dia pasti sedang pilu dan gusar. Salah-salah dia bisa melampiaskan kegusarannya padaku dengan alasan surat itu. Aku takut dipukuli. Kali ini aku tak dapat bertanya bagaimana pada ibu. Benar benar tidak bisa. Aku hanya dapat menanyakannya pada Tuhan. Tapi Tuhan masih diam.
Tiba-tiba dia bangkit dari duduknya. Menyuruhku masuk kamar lalu tidur. Padahal ini belum terlalu malam. Kutatap jarum pendek jam yang tergantung di dinding, masih berdiam di angka delapan. Aku menolaknya. Belum ngantuk, begitu ucapku. Tak sangka aku memancing emosinya. Ditariknya tubuhku ke dalam kamar lalu dikuncinya dari luar. Aku menangis berteriak-teriak meminta maaf dan memohon agar tidak dikunci. Menggedor-gedor pintu agar dia membukanya. Namun dia diam dan dengan lantang berkata.
“Diem aja di kamar!!!”
Aku meraung-raung manangis sampai-sampai kelelahan dan tak mampu lagi berteriak. Setidaknya tolong biarkan aku keluar sebentar. Aku ingin pipis.
Ada apa dengannya. Dia tak pernah mengunciku di dalam kamar seperti ini. Dia kenapa??
Akhirnya aku hanya merebahkan tubuh di atas tempat tidur sambil menahan rasa sesak dalam kantung kemihku. Sambil terus terisak aku memakinya dalam hati. Ibu jahat. Ibu kejam. Ibu keterlaluan.
Beberapa jam aku terus memakinya dalam hati. Mengutukya dalam-dalam. Menjadi anak durhaka sejenak karna mengutuk dan memaki ibuku sendiri. Aku takkan pernah lagi mau membantunya. Aku takkan pernah mau mengurusnya ketika dia tua nanti. Ketika dia sudah renta dan tak bisa lagi apa-apa. Aku akan membuangnya. Aku benci dia. Aku akan menyakitinya seperti dia menyakitiku sekarang. Bodoh benar aku berpikir bahwa dia sayang padaku. Bahwa dia perhatian padaku. Bodoh benar aku sudah merasa ge-er. Bagaimana bisa dia menyakiti anaknya yang masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Aku benci dia.
Benci!!!
Samar-samar dalam kantukku terdengar suara-suara yang pernah kudengar sebelumnya. Berasal dari ruang tamu yang hanya dibatasi tembok retak dari kamarku. Penasaran. Jahilku datang. Aku rekatkan daun telingaku ke dinding tembok. Ada suara pria dan wanita. Suara wanita yang sangat kukenal. Suara pria yang juga sangat kukenal. Ibu dan bapak? Mereka berbincang bincang tanpa dapat kudengar apa yang mereka bicarakan. Sedikit berbisik. Seringkali terdengar sentakan dan tawa bapak. Membuat aku terbingung-bingung. Sedang apa mereka. Mengapa mereka masih bersama setelah perpisahan dua tahun lalu. Ketika bapak lebih memilih perempuan itu daripada ibu. Aku menutup mulutku rapat hingga terkadang menahan nafasku. Takut-takut terdengar dan memecah keheningan disana. Iya disana kini benar-benar hening. Lalu lagi terdengar suara tawa bapak yang menghilang bersamaan dengan suara pintu yang dibuka lalu ditutup kembali. Kini hanya ada lenguhan ibu disertai isakan. Iya, dia mengisak. Ibuku sedang menangis. Apakah dia baik-baik saja. Dia kenapa. Apakah bapak tadi memukulnya seperti dulu. Aku ingin kesana memeluknya. Tapi pasti dia akan marah, lagipula aku masih terkunci disini. Oh ibu…kasihan ibu…
Aku menyesal lagi telah memakinya. Tidak seharusya aku begitu. Mendengarnya menangis membuatku kalah dengan ego. Bagaimanapun dia yang membawaku ke dunia ini. Bagaimanapun dia yang menyusuiku. Bagaimanapun dia yang memberiku makan. Bagaimanapun dia pasti menyayangiku. Bagaimanapun aku pasti menyayangi dia. Bagaimanapun itu.
Pintu kamarku dibuka olehya. Aku pura-pura tertidur. Memejamkan mata dan menarik sarung yang kujadikan selimut. Dia mendekatiku. Memeluk tubuhku. Mencium-ciumi kepalaku. Dibelai-belainya rambutku. Aku ingin balas memeluk namun aku gengsi. Aku ingin menangis namun aku maĺu. Aku ingin bertanya “kenapa” namun aku takut. Lagipula aku juga sedang berpura-pura tertidur. Dia menangis. Aku mendengarnya. Lama sekali dia memelukku hingga akhirnya aku benar-benar terlelap dengan pipis yang tertahan.
Pagi sekali dia sudah bangun. Hari ini aku tidak sekolah karna seragam dan sepatuku yang benar-benar masih basah. Ibu sudah menyediakan singkong goreng di atas meja. Dia sudah bersiap hendak pergi.
“ Mau kemana bu? Bukannya udah nggak kerja?”
“ Mau cari kerjalah.”
Dia mengeluarkan uang lima ribu dari kantongnya. Diberikan padaku, katanya untukku makan siang sampai malam nanti. Dia akan pulang agak malam hari ini. Dari mana uang ini? Bukankah dia tak lagi pegang uang sepeserpun kemarin malam? Namun aku hanya menyimpan pertanyaan dalam hati. Aku tak ingin dia kalap lalu gelap mata pagi-pagi begini. Aku mencium tangannya ketika dia menyodorkan dan memandangnya menghilang di ujung jalan.
Ohh….tidak! surat itu.
Aku mencarinya di jejeran buku yang kukeringkan. Ada dan tidak musnah seperti harapanku. Tapi untuk apa. Rasanya tidak mungkin kuserahkan ini pada ibu di saat-saat seperti ini. Tapi bagaimana aku harus bertangung jawab pada ibu guru. Kenapa begitu banyak pertanyaan bagaimana yang tak dapat kujawab. Baiklah, nanti sepulangnya ibu ke rumah aku akan menyerahkan surat itu. Tapi, kasihan ibu. Ibu pasti lelah. Ibu juga bisa saja naik pitam.
Aku ingin menjelaskan pada ibu guru tentang bagaimana keadaanku. Bagaimana caranya. Aku malu. Aku merobek secarik kertas dari buku dan mengambil pensil. Ibu guru berkomunikasi dengan ibuku lewat surat. Apa salahnya aku mengikuti caranya, berkomunikasi dengannya lewat surat. Aku ingin ibu guru tahu apa yang kurasa. Siapa tahu saja ibu guru akan berhenti mengirimi surat pada ibuku setiap tiga bulan sekali yang menyebabkan aku terjengkang dan berakhir dengan tangisan ibuku di kamarnya.
Tapi apa saja yang harus kutulis. Apa saja yang aku ingin ibu guru ketahui.
Pertama harus kukatakan bahwa ibuku sudah tak bekerja.
Kedua adalah tentang ketidaksanggupanku untuk menyerahkan surat ini ditengah kesulitannya.
Ketiga adalah aku berjanji jika sudah ada uang akan kubayar tunggakan uang sekolahku atau jika perlu akan kucicil dengan uang makanku.
Aku segera menulis kata-katanya di atas kertas yang masih agak lembab akibat kehujanan kemarin. Tidak perlu menggunakan amplop. Ibu guru pasti menerima. Aku bubuhi sedikit tanda tanganku di bawahnya. Tanda tangan ala kadarnya.
Tidak sabar aku menunggu besok saat ke sekolah. Sambil menunggu, aku kembali mengeringkan perlengkapan sekolahku. Membeli gorengan empat buah untuk makan malam. Membeli nasi dengan kuah rendang di warung padang uda eko untuk makan siang.
Ibu pulang agak larut dan langsung menyuruhku pergi tidur. Karna tahu ibu lelah maka aku menurut saja. Kasihan ibu kalau harus marah-marah lagi karna aku. Tapi lagi-lagi ibu mengunciku dari luar. Namun tidak seperti malam kemarin. Malam ini tidak ada suara bapak dan malam ini ibu tidak menemaniku tidur. Hanya membuka pintu kamarku dengan tanpa masuk ke dalam. Pasti ibu kelelahan. Kasihan ibu.
***
Pagi ini di sekolah. Aku membawa serta surat yang kemarin kutulis untuk ibu guru dan surat yang dititipkan ibu guru untuk ibuku. Aku berniat mengembalikan surat itu kepadanya dan berharap semoga ibu guru dapat maklum setelah membaca surat dariku. Sepanjang jam pelajaran aku terus menimbang-nimbang, aku sebenarnya takut menyerahkan dua surat itu pada ibu guru. Takut ibu guru tidak mau mengerti dan mengembalikan surat itu lalu menyuruhku menyerahkan surat lagi pada ibuku. Jika seperti itu aku tak dapat lagi mengelak. Disamping itu aku juga malu. Entah kenapa aku malu. Aku mungkin malu karna tak punya uang.  Aku juga malu karna akan terlihat seperti benar-benar mengemis karna isi surat yang kubuat.
Disana, di dalam bak sampah itu kedua surat yang semula kugenggam kini berada. "Maaf" gumamkundalam hati seraya memalingkan wajah mengalihkan pandangan. Berpura-pura tak ingat agar tak ada rasa bersalah. Lalu bergegas pulang dengan lunglai.
"Besok bayar uang SPP."
"Bu??" belum sempat aku meletakkan tas, ibu menyodorkan tiga lembar uang ratusan ribu sambil berlalu menuju dapur.
"Ibu jadi satpam di tokonya bapak sekarang." ucapnya sedikit terbata dari dapur.
Ibu.., ia tak perdulikan diri dan hatinya sendiri untuk memperdulikanku.

Pernikahan hidung belang


Terketuk hatiku untuk segera memberinya kebahagiaan. Sesegera mungkin mengambil keputusan. Secepatnya membiarkan dia lepas dari belenggu yang memenjara, itu istilah yang sering diucapkannya. Aku begitu sering mempertimbangkan banyak hal yang selalu mengguncang tali yang menghubungkan antara aku  dan dia. Pernikahan. Tentang ego, rasa, cinta. Banyak juga hal lain yang selalu aku pertimbangkan, hal hal yang selalu kembali mengencangkan tali tersebut. Ada tentang aku, ada tentang dia, ada tentang ibuku, ada tentang ibunya, ada tentang anak kami, ada tentang perasaan kami semua. Dan saat ini aku dikalahkan untuk memenangkan ego yang dia bilang perasaannya. Dengan menulikan telinga dari bisikan-bisikan tentang aku, ibuku, ibunya, anak kami dan perasaan kami. Hatiku hanya tak ingin melihatnya lebih lama lagi tersiksa oleh bakti yang dipaksakan. Walau sebenarnya aku dapat menjalani hidup bersamanya dengan tanpa hati. Namun hati ini lama-lama jengah dengan rengekannya agar segera dikeluarkan dari belenggu.
“Ini tentang harga diri.” Ucap sahabatku. Aku pikir memang demikian. Aku sebenarnya bukan lelaki yang suka diusik harga dirinya. Dulu, saat masih duduk di bangku kuliah, saat masih aktif jadi pembalap motor jalanan. Bukan satu atau dua wanita yang siap aku jadikan sekedar pengganti guling. Aku hanya tinggal memilih untuk bisa menikmati. Rasa apapun telah aku coba. Dia yang kurus sekali hingga yang gemuk sekali sebesar drum minyak. Dia yang tak menarik hingga mulus seperti artis. Dia yang harus selalu di traktir hingga yang hanya mengeluarkan uang seratus ribu keatas. Dia yang polos hingga belangsatan. Aku penjelajah, penjelajah janis-jenis wanita. Jadi sejarah mana yang berani memberi kisah bahwa aku harus mengemis untuk sebuah kebersamaan. Kebersamaan yang sebenarnya akupun telah begitu muak.
***
Mengendap-ngendap dia mendekatiku, lewat ibuku tentunya. Ibu, selalu jadi sosok kedua penentu hidupku. Saat itu ibu termakan pesonanya sebagai bakal menantu yang baik. Dia memang pantas jadi wanita idaman meskipun parasnya biasa saja. Wanita dewasa, hanya terpaut dua tahun di bawah usiaku. Punya posisi baik di kantornya dengan penghasilan yang dapat kukatakan cukup untuk menghidupi sebuah keluarga. Garis keluarganya yang baik. Tutur katanya yang sopan dan santun. Kemampuannya di dapur juga tidak dapat dikatakan buruk. Terlihat seperti wanita baik-baik karna selalu menutupi auratnya, walau aku tak pernah menilai baik atau tidaknya seorang wanita hanya berdasar penampilan. Namun ibuku meyakini demikian. Dia juga cerdas mampu membaca situasi. Terbukti dia tahu bahwa ibuku punya peran penting dalam hidupku. Apalagi mengenai jodoh.
Benar, ibu berperan sangat penting. Tanpa izinnya aku takkan mau melakukan sesuatu. Begitu juga balapan di jalan yang biasa kulakukan setiap malam minggu. Ibu yang selalu bertengger jadi penonton setia setiap aksiku. Sejak sore hingga tengah malam. Ibu tak pernah melarang meski terkadang cerewet. Mungkin memang hanya aku yang ia khawatirkan. Ibu tak lagi bersuami entah sejak kapan. Ibu juga tak pernah lagi melahirkan karna memang tak ada lagi yang membuahi. Tapi aku tahu pasti bahwa suaminya tidak pergi karna mati. Dia hanya mematikan diri dari hati ibu dan hatiku, anaknya. Jadi ibu bilang, ibu sangat mencitaiku dan akan selalu mendukung setiap langkahku kecuali kelakuanku yang sering meniduri anak orang. Ibu tahu! Aku tak tahu bagaimana ia bisa tahu.
Begitu hingga aku benar-benar sulit untuk menikah. Aku pemain tapi juga ingin berumah tangga. Berharap semoga ego pemainku luntur jika ada wanita yang selalu menyambut dengan senyum hangat setiap pulang kerja. Menemani malam yang terkadang dinginnya menusuk. Lalu teriakan kecil seorang anak yang memanggilku “papa” untuk menemaninya bermain. Yaa, semoga begitu. Karna itu tidak semua kujalani hubungan dengan wanita-wanita itu tanpa ikatan. Beberapa diantaranya cukup menarik hatiku. Terlebih mereka yang kalem kuanggap juga mampu memberi kasih pada ibuku. Tapi ibu, begitu pemilih tidak satupun dari mereka yang kuajukan disetujuinya. Kurang santunlah, kurang berbakatlah, kurang gregetlah, kurang menarik minatnya yang pasti. Membuatku geleng-geleng kepala, seperti apa yang sebenarnya dia mau.
Akibatnya aku betah melajang hingga usiaku menyentuh kepala empat. Masalah? Bukan. Bergegas kutuang dua sendok makan bubuk kopi ke dalam cangkir. Tanpa menabur gula, aku langsung menuang air panas kedalamnya. Sejak bertahun-tahun lalu kopi pahit sudah menjadi kegemaranku. Menemani malam yang terkadang kubiarkan tanpa pemeluk. Kubiarkan sejenak hingga agak dingin, lalu kuteguk perlahan. Ini sangat penting terutama disaat-saat aku berpikir sangat dalam. Ibu ingin aku menikah. Ia ingin ada seseorang yang mengurusku ketika ia telah tiada. Dan ia ingin aku menikah dengan wanita itu. Wanita yang usianya terpaut dua tahun di bawah usiaku. Wanita yang memang seharusnya nyaris sempurna untuk diajadikan istri olehku. Tapi aku tak tertarik. Aku ingin yang lebih bergairah, untukku dia terlalu kaku. Aku butuh yang mampu menghilangkan penatku setiap harinya setelah seharian bekerja. Aku ingin yang dapat memanjakan juga dapat kumajakan. Tapi ibu ingin wanita itu. Ibuku inginkan dia. Lalu aku harus bagaimana. Kuteguk kopi yang kini hangat di depanku. Mencoba menenangkan pikiran. Menimbang ini itu. Aku tahu aku harus memutuskan untuk menikahi wanita itu. Aku hanya mampu mencari pembenaran bahwa menikahinya adalah juga tepat untukku. Setidaknya untuk ibu.
“ Saya nggak mencintai mas.” Katanya.
Aku terkejut. Jadi untuk apa dia mendekatiku?
“ Karna saya kenal ibu dengan baik, ibu minta saya menikah dengan mas karna pertimbangan usia kita selain karna kata ibu, ibu memang suka dengan saya.”
“ Lalu kamu mau aja?”
Dia mengangguk pelan. Pelan sekali. Sangat kemayu. Membuatku gemas. Bagaimana dengan urusan ranjang? Apakah akan sekemayu ini? Salah-salah semalaman hanya dapat satu kali gol. Aku belum pernah punya pengalaman denga wanita sekemayu ini.
Katanya, dia juga mempertimbangkan usianya yang sudah tidak muda lagi. Hanya saja memang dia terlalu pasif hingga sampai saat ini belum mendapat pendamping, jadi dia pikir mugkin  aku adalah jawaban atas doanya selama ini untuk segera mendapat jodoh. Mungkin aku adalah jalan yang diberi Tuhan. Okay,… baiklah. Sebenarnya hatiku agak tertawa geli mendengar kata katanya.
Parasnya biasa dan terkesan kaku. Wajar jika dia belum pernah punya hubungan dengan seorang pria. Tapi menikah dengan tanpa perasaan kusangsikan dapat bertahan. Entah berapa lama akan mungkin dapat dijalani. Dia bilang, cinta adalah proses. Semoga kita dapat saling mencintai setelah menikah nanti. Setidaknya kita bisa belajar untuk itu. Harapannya terdengar tulus bagiku, juga sangat basi dan membosankan. Haruskah aku menikah dengan wanita yang bahkan tidak ingin kusentuh ini. Atau mungkin aku dapat ikut berharap seperti dia.
Tiga bulan berlalu. Tiga bulan yang kurapkan dapat menjadi penjajakan sangat istimewa ternyata terasa menusuk. Aku berhenti menemui teman-teman mesraku. Aku fokus padanya. Belajar membangun  sedikit perasaan. Tapi hasilnya tetap saja nihil. Aku tidak menemukan hasrat untuk berdekatan dengannya. Tidak begitu kukhawatirkan mengenai aktifitas ranjang kami kelak. Aku biasa berbuat tanpa perasaan. Namun aku ingin melakukan dengannya atas dasar cinta. Bukan hanya sekedar butuh apalagi coba-coba. Karna saat itu terjadi pasti dia sudah berstatus istriku. Tidak mungkin kan aku bisa melakukan test drive dengannya. Dan tentang kehidupan rumah tangga kami nanti, mungkin hanya akan terasa seperti basa-basi. Itu yang lebih membuatku khawatir.
Kami pun menikah. Dengan tanpa pesta. Hanya ada ijab qobul dan kumpul keluarga. Setelah itu, malam pertama. Baginya tentu saja.
Dan benar saja. Semua terasa hanya seperti memenuhi kebutuhan. Sebatas melakukan kewajiban. Tidak ada kenikmatan batin yang aku rasakan. Tak tahu dengan dia, karna ternyata dia tertidur dalam pelukanku. Mungkin dia menyukai kegiatan datar ini atau mungkin karna baru pertama kali jadi dia tersenyum senang.
Hari-hari kami berjalan baik. Baik karna dia melakukan apa yang seorang istri perlu lakukan. Dia menghormati ibuku, bahkan terkesan menyayanginya. Ibunya pun terkadang menghabiskan malam di kediaman kami. Aku menghormatinya seperti aku menghormati ibuku. Dia menyambutku setiap aku pulang kerja. Seperti yang aku inginkan. Dia memang selalu pulang terlebih dulu dariku karna mungkin lokasi kantornya yang dekat dengan rumah kami. Menyiapkan kopi. Menyiapkan baju ganti. Itu saja. Tanpa pelukan apalagi ciuman yang menghangatkan. Terkadang aku berpikir,  aku menikahi seorang istri atau pembantu. Gila. Begitu juga urusan ranjang. Dia baru menyerahkan diri setelah kuminta. Itupun dengan gaya kaku “ Dek, mas lagi mau.” Kemudian dijawabnya “ Iya mas.” Barulah dia bersiap di tempat tidur. Hahahaha…disitu dia lebih mirip seorang selir. Aku tak tahu mengapa, tapi aku tak mampu mengeluarkan jurus kucing garong untuk merayunya. Terpikir konyol olehku jika tahu tahu dia membalas rayuanku dengan tanpa ekspresi.
Mungkin karna kekakuan itu dan dengan gaya-gaya kaku. Tak berselang terlalu lama diapun mengandung. Aku berhasil membuahinya. Aku akan menjadi seorang ayah. Bahagia pastinya, namun bahagia yang biasa-biasa. Selama hamil, dia tak parnah bermanja denganku. Tak pernah meminta ini itu selayaknya wanita yang sedang mengidam. Hanya terkadang aku yang mencemaskannya ketika dia terlihat mual. Dia tidak sama sekali merepotkan, tapi aku ingin sedikit direpotkan. Dalam masa-masa itu, ibuku yang terbawa suasana berlebih. Sangat memperhatikan menantu satu-satunya. Malah terkadang ibu terlihat lebih menganakkan dia daripada aku. Iri? Tentu tidak. Tentu tidak tahu.
Dia merebahkan tubuh di atas ranjang, tepat disebelahku. Tidak sedikitpun dia berucap, hanya kedua tangannya yang mengelus-elus perutnya yang sudah mulai membesar. “Sudah tujuh bulan yah?” tanyaku. “Iya”. Hhaaa….suami macam apa aku bahkan masih harus bertanya berapa usia kandungan istriku. Aku memang tak pernah mengantarnya check up ke dokter. Dia tak pernah meminta dan setiap aku menawarkan diri selalu dijawabnya, “Nggak usah, sama ibu aja.” Yasudah lebih baik meregangkan otot bersama teman mesraku. Sejak dia mengadung aku memang beberapa kali menghabiskan waktu dengan beberapa teman wanita. Aku tak tega memintanya, tapi sebuah birahi terus meminta dituntaskan. Terkadang rasa bersalah menghinggap di benakku. Tapi apa yang dapat kulakukan? Minta maaf seraya mengaku? Hahh…jangan bercanda.
Aku mendekatinya, kupendam semua gengsi yang selama ini membuntuti. Kuletakkan tangan kiriku di atas perutnya. Aku merasakan dalam-dalam, sesekali terasa ada gerakan. Dia mengangkat tangannya, membiarkanku dengan leluasa mengelus perutnya. Sesekali aku menatapnya lalu tersenyum, diapun membalas senyumku. Entah mengapa jantungku berdetak cepat, seperti ada melodi yang kemudian menenangkan. Aku mengecup keningnya dan membiarkan dia tertidur di bahuku. Malam yang dipayungi indah. Aku dan dia terlelap dalam haru hening.
Sayangnya kejadian demikian tak pernah lagi terulang. Tak ada kesempatan atau memang aku atau dia yang tak pernah mengambil kesempatan. Hari-hari terlewati dalam keadaan yang dihangat-hangatkan. Akupun terkesan tidak begitu memantau perkembangan janinnya. Ada ibu yang jauh lebih memperhatikan. Hingga saat dia melahirkanpun aku tak menemaninya. Aku sedang dinas luar pulau. Jujur saja aku ingin menemaninya, melihat detik-detik anakku menghirup udara dunia yang fana. Mengumandangkan adzan di telinganya yang mungil. Namun apa mau dikata, semua malah dilakukan oleh dokter yang membantu persalinannya. Dokter yang baik atau memang semua dokter yang membantu persalinan akan melakukan hal seperti itu. Teman sekantorku bilang, tidak.
Alyssa, gadis mungilku. Telah hadir di dunia ini. Dia mirip aku, matanya yang agak sipit tajam, bibirnya yang tebal di bawah, alisnya yang tebal. Tidak seperti ibunya. Tidak mirip ibunya. Dia anakku. Aku ayahnya. Aku bahagia sekali.
Aku sepatutnya merasa amat beruntung. Memiliki istri yang baik walau sedikit banyak kurang menggairahkan. Memiliki gadis kecil yang lucu, cantik dan pintar. Sejak kelahiran Alyssa, aku tak pernah lagi menyentuh wanita lain. Aku selalu ingin cepat pulang lalu kemudian memeluk gadis kecilku hingga kemudian ibunya. Aku masih belum mampu mencintai istriku, namun kuakui aku begitu menyayanginya. Dalam ketidaktertarikanku padanya, dia menghadiahiku kebahagiaan, Alyssa. Di tengah dinginnya genggamanku, dia memberi senyum yang hangat.
Alyssa tumbuh dengan cepat, seperti inginku, dia menyambutku dengan hangat setiap aku pulang kerja. Ucapannya yang terkadang memekik dan terkadang lembut, “Papa…papa…” membuat lelahku menguap tak lagi terasa. Hanya rewelnya yang sesekali membuatku kesal. Namun ada yang berbeda kurasa dari dia. Wanita yang kunikahi. Tidak ada yang berubah dengan aktifitasnya memenuhi kebutuhanku, melayaniku. Namun kurasa hatinya tak lagi ada ditempatnya. Senyumnya lambat laun lebih terasa seperti basa basi. Begitu juga dengan kegiatan ranjang kami tak pernah lagi diakhiri dengan pelukannya.

Disaat Alyssa memasuki usia tiga tahun, dia memintaku bicara serius. Wanita ini mengajak suaminya bicara serius. Aku terheran. Setelah menidurkan Alyssa, dia mendekatiku. Kami duduk berdua di atas ranjang tempat kami biasa dibasahi peluh. Dia telah menyiapkan kopi panas hitam untukku, kurasa ini sangat penting karna tidak biasanya dia buatkan aku kopi sebelum tidur.
“Mas, saya pikir ini udah harus berakhir.”
Aku tersentak kaget dan mencoba kembali mencerna ucapannya. Berakhir? Ini? Apa?
“Maksud kamu?”
“Pernikahan kita.”
Aku terbelalak, bertanya-tanya mengenai apa yang sebenarnya dia pikirkan.
“Coba kamu jelasin lebih jelas, aku nggak ngerti.”
Dia mencoba menjelaskan pelan-pelan, mungkin takut aku terlalu kaget lalu terbawa emosi hingga tak mampu menahan amarah. Dia tidak menginginkan pernikahan ini sepertiku, aku tahu itu. Tapi kami sudah menjalaninya, bahkan sudah ada Alyssa. Lalu bagaimana dengan ibuku, ibunya, anak kami. Kenapa tidak dari dulu. Kemudian dia mengungkapkan bahwa dia sudah berusaha semampunya namun tidak bisa lagi untuk lebih lama. Dia bilang dia mengetahui kelakuanku saat dia mengandung, mengenai teman-teman mesraku. Wang parfum yang bergati-ganti. Dengkuran lelahku seperti setiap kali usai menidurnya. Namun dia tetap diam karna menghargai ibu. Dia juga tahu pasti bahwa aku tak mencintainya, begitu juga dia yang tidak bisa mencintaiku.
Dia mulai meneteskan air mata, wajahnya tertunduk. Akupun sangat malu. Dia berucap lagi bahwa sudah benar-benar berusaha mencintaiku namun apa yang kulakukan membuat usahanya kian sia-sia. Aku menggenggam tangannya dan berusaha meyakinkan bahwa sejak tiga tahun lalu aku sudah tak lagi menyentuh mereka. Kuucapkan bahwa aku mulai menyayanginya dan begitu mencintai Alyssa. Namun dia tetap diam. Kami tenggelam dalam bisu hingga kemudian dia bilang, dia telah menyematkan hatinya pada pria lain. Tangisnya kian pecah. Aku menarik tanganku dan terdiam kaku.
“Dokter itu?” Dia mengangguk.
Malam itu membawa perubahan besar dalam hati kami, hatiku tentu saja. Dia tetap melayaniku seperti biasa, namun aku tak pernah lagi mencoba menyentuhnya. Sapaan kami terasa begitu basi. Kurasa ibu mulai menyadari kecanggungan diantara kami. Ibu memang belum mengetahuinya. Dia memintaku bicara dengan ibu. Tapi aku belum siap. Ibu pasti akan sangat kecewa. Dan aku tak siap menerima kekecewaan ibu.
Dalam hari-hari setelahnya, dia selalu menanyakan “kapan”. Aku selalu menjawab “sabar dulu”. Baru kali ini seorang wanita meminta lepas dariku dan dimana aku harus meletakkan harga diriku jika tetap mempertahankannya. Aku pikir keadaan seperti ini tak bisa lagi diperpanjang. Aku tak mampu mengetahui bahwa istriku memadu kasih dengan pria lain. Meski aku tak mencintainya namun dia tetap istriku. Meski aku seringkali bermain di belakangya bukan berarti aku akan menerima jika dia bermain hati dengan yang lain. Tidak. Aku tidak bisa mempertahankan yang seperti ini.
Aku mengetuk pintu kamar ibu perlahan, ia membukanya dan mempersilahkan aku masuk. Aku duduk di sisi tempat tidurnya sedang ia duduk di kursi meja riasnya. Kusampaikan keinginanku untuk bicara tentang rumah tanggaku dan dia. Ibu tiba-tiba berucap sesuatu yang tidak terlalu membuatku terkejut. Ibu memang jeli dan pandai membaca suasana.
“Ibu sudah tahu.” Ucapnya.
Akupun tak banyak bicara, tidak juga mengenai alasan dia meminta bercerai dariku. Hanya kuucapkan bahwa semua ini salahku karna bermain kotor dengan wanita lain. Tidak kuungkit sedikitpun mengenai pria yang telah mencuri hati istriku. Ibu ternyata selama ini memiliki ketakutan yang sama denganku. Ketakutan bahwa pernikahan ini hanya akan berumur singkat, seumur jagung. Ia mengerti benar sifatku yang memang sulit. Ibu menerimanya dan tidak terlalu terpukul namun diucapnya bahwa ia sangat kecewa. Aku memohon maaf padanya, mencium tangannya dan memeluknya. Kurasakan air matanya menetes, tidak banyak namun sangat membunuh hatiku. Ia hanya mengkhawatirkan aku di kemudian hari, saat tak ada lagi yang marah-marah untuk mengingatkan aku dengan kelakuanku yang buruk. Saat tidak ada lagi yang mengurusku. Namun aku menenangkan, toch..aku telah memiliki Alyssa, seorang putri yang tak mungkin akan lupa akan ayahnya. Diapun, istriku, berjanji akan tetap menjaga tali silaturahmi diantara kami. Tak ada mantan bapak, katanya.
Bebanku berkurang. Setelah aku memberi tahunya bahwa aku telah bicara pada ibu, dia langsung menemui ibu. Mungkin meminta maaf karna kudapati matanya sembab ketika kembali ke kamar.
Kini keadaan kembali seperti empat tahun yang lalu. Tanpa suara teriakan anak kecil yang menyambut ketika aku pulang kerja. Dengan kopi yang kubuat sendiri, aku melayangkan pikiran seraya duduk santai di depan meja kerjaku. Berpikir tentang Alyssa dengan kelucuannya. Berpikir tentang dia yang kini tidur dalam pelukan pria lain. Tiba-tiba ibu masuk membawakan sepiring nasi goreng kegemaranku. Kami berbincang, bencanda, tertawa. Hingga akhirnya ia terlelap di tempat tidurku. Aku berbaring di sebelahnya, memandanginya. Berharap Ibu takkan pernah pergi meninggalkanku.

Sabtu, 04 April 2015

JOMBLO

Ini senja terpanjang yang pernah ada. Lantaran aku dibuatnya menanti sendiri disini. Disudutkan hingga terjatuh di atas sofa merah kami. Tempat biasa aku dan dia menghabiskan senja. Tapi tidak dengan senja kali ini. Dia berkhianat.

 

Aku tahu udara saat ini begitu dingin. Mataku menangkap lengkung pelangi di sudut langit. Hujan baru saja usai dan dia tahu pasti aku butuh kehangatan darinya. Kenapa kali ini dia memilih mendekap yang lain di hadapanku. Kenapa aku hanya diam memandangi permainannya yang memikat.

 

"Huhhh.... Kamu sudah hampir satu jam main sama dia, belum puas?"

 

Dia memerhatikan setiap kata yang kuucap. Lihat bagaimana dia lalu berhenti sejenak menatap lekat dimataku. Tapi sudah. Sampai disitu dan dia kembali asyik dengan pasangannya. Aku sudah tidak tahan melihat tingkahnya. Pada akhirnya aku bangkit mendekatinya, mengamit tangannya. Tapi dia menolak dan menariknya. Heyyy... Tidak biasanya dia begini.

 

"Kamu apa sih? Aku sudah habiskan 2 cangkir teh menunggu kamu tapi kamu terus asyik dengan dia!"

 

Kali ini dia tidak menggubris. Menoleh kearahku pun tidak. Mungkin dia hampir klimaks.

 

"Padahal dulu kamu yang selalu ngejar-ngejar aku. Padahal dulu aku sebal sama kamu yang bau. Sampai akhirnya aku luluh karna tatapanmu yang mengiba. Sampai aku terlanjur sayang sama kamu. Sampai aku yakin kalau kamu akan selalu ada buat menemani aku. Kapanpun."

 

Yess,.. Dia merespon. Berjalan pelan menuju pelukanku. Hampir sampai namun dia berbalik lagi ketika pasangannya memanggil dengan lembut dan manja. Jijik. Apa sih kuranganya aku. Belum cukup semua perhatian kuberikan untuknya. Shamponya bahkan lebih mahal dari shampoku. Dan itu aku yang belikan!

 

Sudahlah, aku kembali merebahkan tubuhku di atas sofa merah kami. Menghisap batang rokok yang panjangnya tak lagi melebihi kelingkingku. Menjatuhkan abunya di atas lantai padahal ada asbak di meja. Harusnya dia tahu aku kesal.

 

"Aku bisa aja ninggalin kamu kalau kamu masih nggak mau balik kesini. Mau kamu balik lagi ke jalanan mengemis makanan sisa di sekitaran kompleks? Siapa lagi yang mau terima kamu selain aku? Kamu sebatang kara, nggak punya siapa-siapa. HEYY!!" suaraku menggertak mengejutkan dia hingga dia tertunduk takut.

 

Miauww....

 

"Sini kamu kucing nakal!"

 

Akhirnya dia meninggalkan kucing betina itu dan kembali menelusup dalam pangkuanku. Aku memanjakannya, mengusap lembut bulu-bulu halusnya

 

"Huhh...senja ini sudah hampir berganti malam minggu. Kamu temani aku ya puss..."