“ Jangan lupa suratnya di kasih ke ibu kamu yah”
Aku mengangguk seraya menerima sebuah amplop panjang berisi surat yang disodorkannya. Ibu guruku. Terurai senyum semanis wajahnya. Alisnya tidak berkerut apalagi mengangkat akibat mata yang dibelalakkan. Kepalanya ditutupi jilbab warna senada dengan pakaiannya. Tergurat kesan kasih dari figurnya yang keibuan. Tergumam kata anggun dari hatiku yang tak pernah bicara lantang. Segera, aku mencium tangannya -wangi-, kemudian keluar dari ruangan yang jadi tempat singgahku setiap tiga bulan sekali, Tata Usaha.
Di luar hujan sangat deras. Petir dan kilat seolah berlomba manarik perhatian. Mereka berkecamuk mencari sesuatu yang sudah banyak dilupakan kebanyakan orang. Perduli. Alam ini masih lebih beruntung dapat berekspresi demikan. Berupaya mendapatkan apa yang diinginkan. Sedangkan aku, tidak tahu harus berbuat apa. Berekspresi sebrutal ini bisa-bisa malah akan membuatku jatuh terjengkang. Terhempas apatis yang aku emis perdulinya. Alih-alih mendapati perduli, salah-salah aku hanya akan dipukuli.
Buat apa?
Buang-buang tenaga. Buang-buang air mata. Yang dapat kulakukan saat ini hanyalah termenung. Mmmm....tepatnya berpikir keras dibalik jendela kelas. Tentang bagaimana aku dapat berlari pulang ditengah hujan deras. Tentang bagaimana aku menyerahkan amplop ini untuk ibuku yang keras. Tentang bagaimana aku kembali ke pelukan seseorang dan memelas.
Tanpa menerka-nerka, aku sudah tahu pasti apa isi surat yang ada di dalam amplop ini. Tak henti aku membolak bailknya. Rasanya ingin kubuang ke dalam tong sampah lalu berpura-pura tidak ingat akan keberadaannya. Tapi... bu guru pasti akan menanyakan esok hari apakah surat yang dititipkannya padaku hari ini telah diserahkan pada ibuku atau belum. Aku bisa saja berbohong dan mengatakan “sudah”. Namun yang ingin dipastikannya -aku sangat yakin-- adalah bukan surat yang telah sampai ke tangan ibuku atau belum. Melainkan tanggapan ibuku tentang isi surat itu. Yang tidak lain merupakan sebuah pertemuan yang diharapkannya. Lebih dari itu, aku juga tak tega membohonginya. Melihat wajah teduh yang selalu aku impikan untuk dapat dilihat dari ibuku. Membuatku merasa mungkin aku lebih pantas berbohong pada ibuku yang galak daripada ibu guruku yang lembut. Aku tertunduk lemas. Berpikir keras tentang sesuatu yang tak ingin kupikirkan dan itu membuatku lelah. Aku memang seharusnya tidak berpikir tentang bagaimana-bagaimana lagi. Semua sudah pasti. Sudah pasti bahwa aku memang harus berlari basah kuyup untuk sampai pulang ke rumah. Sudah pasti bahwa aku nanti malam harus segera menyerahkan surat itu, lagi-lagi, pada ibuku di rumah. Dan sudah pasti bahwa aku, lagi-lagi, harus menyiapkan kapas untuk menyumbat telinga nanti malam.
Teeetttttttt…………………….
Teeettttttttttt……………………………
Sorak sorai terdengar riuh ketika bel sekolah mengagetkanku, membangunkanku dari lamunan. Mereka semua bergembira menyambut kebebasan sementara. Sebelum akhirnya terpenjara lagi di dalam kelas esok hari sejak matahari terbit hingga siang menjelang. Padahal hujan masih sangat deras. Kilat masih menyambar sana sini. Ada beberapa dari mereka yang menunda pulang dan berteduh di sekolah. Apa mereka punya ketakutan yang sama denganku? Takut besok tak dapat sekolah karna seragam yang belum kering atau sepatu yang masih kuyup. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Ada juga beberapa dari mereka yang menerobos hujan tanpa takut dengan petir yang mengintai. Ada juga mereka-mereka yang dijemput orang tuanya sekedar dengan sebuah payung lalu jalan kaki pulang. Atau dengan motor dan mobil yang tak kuketahui jenis apa kendaraan-kendaraan itu biasa disebut. Sebenarnya aku ingin seperti mereka yang dijemput oleh orang tua atau saudaranya. Tapi sepertinya nasibku mengatakan bahwa aku harus ikut nekat menerobos hujan menantang petir untuk segera sampai di rumah. Aku bahkan tak bisa mengambil pilihan untuk berteduh hingga hujan reda. Banyak pakaian harus kucuci di rumah. Banyak piring dan gelas yang masih berlemak. Banyak debu yang minta dikeluarkan dari tiap sudut rumah. Mereka menungguku. Apa boleh buat.
Aku melangkahkan kaki dengan cepat. Membuat genangan air terpijak terlalu keras hingga bersuara agak nyaring. Melebihi suara rintikan hujan yang sedari tadi menghantam kepala dan tubuhku. Air yang kupijak memecah setiap kali terhantam. Membuat sebagian menerpa kakiku hingga ke dasar rok. Sambil berlari sambil aku berpikir dan berdoa berharap kaus kakiku segera kering setelah aku cuci sesampainya di rumah nanti. Semoga Tuhan mendengar doaku.
“Astagaaa…….”
Terburu-buru dia menarikku masuk ke dalam rumah. Kenapa dia ada di depan pintu ketika aku pulang. Berdiri bersandar seperti menunggu atau mencari sesuatu di luar sana. Apakah dia menungguku. Ibuku menungguku pulang! Mungkinkah? Seharunya dia sudah pergi bekerja sejak pagi tadi hingga nanti larut malam. Tapi siang-siang begini dia masih di rumah. Apa dia sakit? Sepertinya tidak. Tergesa gesa dia melucuti pakaianku hingga kaus dan celana dalam saja yang tersisa di tubuhku. Disuruhnya aku mengeringkan buku-bukuku. Juga disuruhnya aku segera mandi. Agar tidak sakit, katanya. Dia sendiri pergi ke belakang membawa pakaianku. Terdengar bunyi air dan gesekan antara sikat dan gilesan. Aku ge-er. Sepertinya dia benar-benar memperhatikanku. Sepertinya dia benar-benar mencintaiku. Aku menyesal sempat berpikir bahwa dia lebih pantas dibohongi daripada ibu guruku. Aku salah.
“Bu kenapa hari ini nggak kerja?”
Selesainya aku mengeluarkan buku dari tas dan menjemurnya di atas meja setelah sebelumnya mandi, aku beranikan diri bertanya padanya. Tapi sebelum itu harus kupastikan bahwa hatinya sedang dalam keadaan baik atau setidaknya tenang. Saat ini dia sedang duduk dan menyeruput kopi hitam pahit kegemarannya. Sambil sesekali menghisap rokok yang panjangnya sudah tidak lebih dari setengah telunjuknya. Beruntungnya dia tidak marah mendapati pertanyaanku. Dengan tenang dia menjawab,
“Berenti”
Aku terkejut benar, namun coba kusembunyikan keterkejutan itu dalam nafas yang kutarik panjang-panjang dan kuhembus perlahan. Dengan, hati-hati aku bertanya lagi,
“Kenapa?”
“Hmmhhhh.... tau ahh, tenang aja kita pasti masih bisa makan."
Dia salah jika menganggapku dapat tenang. Aku butuh lebih dari makan. Aku butuh uang sekolah, uang buku, uang alat tulis, uang seragam. Kepada siapa aku harus berharap semua itu jika dia tak lagi bekerja. Meski hanya menjadi pelayan warung makan, namun penghasilannya dapat sedikit-sedikit menyokong keperluanku. Sedangkan dia tak pernah mengizinkanku bekerja untuk membantu. Bagaimana ini Tuhan?
Hingga malam aku duduk-duduk bersama ibu. Tak ada yang kami lakukan. Padahal aku tahu dia sedang pilu. Aku tahu dia sedang memikirkan apakah besok akan ada uang untuk makan atau tidak. Lagi-lagi, aku termenung. Terbengong memikirkan hal yang tak mampu aku pikirkan. Aku ingin bertanya bagaimana pada ibu, tapi aku takut dia marah. Mungkin saat ini aku lebih takut pada ibu daripada Tuhan. Lalu aku teringat dengan surat yang tadi siang dititipkan ibu guru untuk ibu. Surat itu dibuat lantaran tunggakan SPPku yang sudah tiga bulan. Lagi, hatiku bertanya bagaimana. Bagaimana menyerahkan ini pada ibu sekarang. Saat ini dia pasti sedang pilu dan gusar. Salah-salah dia bisa melampiaskan kegusarannya padaku dengan alasan surat itu. Aku takut dipukuli. Kali ini aku tak dapat bertanya bagaimana pada ibu. Benar benar tidak bisa. Aku hanya dapat menanyakannya pada Tuhan. Tapi Tuhan masih diam.
Tiba-tiba dia bangkit dari duduknya. Menyuruhku masuk kamar lalu tidur. Padahal ini belum terlalu malam. Kutatap jarum pendek jam yang tergantung di dinding, masih berdiam di angka delapan. Aku menolaknya. Belum ngantuk, begitu ucapku. Tak sangka aku memancing emosinya. Ditariknya tubuhku ke dalam kamar lalu dikuncinya dari luar. Aku menangis berteriak-teriak meminta maaf dan memohon agar tidak dikunci. Menggedor-gedor pintu agar dia membukanya. Namun dia diam dan dengan lantang berkata.
“Diem aja di kamar!!!”
Aku meraung-raung manangis sampai-sampai kelelahan dan tak mampu lagi berteriak. Setidaknya tolong biarkan aku keluar sebentar. Aku ingin pipis.
Ada apa dengannya. Dia tak pernah mengunciku di dalam kamar seperti ini. Dia kenapa??
Akhirnya aku hanya merebahkan tubuh di atas tempat tidur sambil menahan rasa sesak dalam kantung kemihku. Sambil terus terisak aku memakinya dalam hati. Ibu jahat. Ibu kejam. Ibu keterlaluan.
Beberapa jam aku terus memakinya dalam hati. Mengutukya dalam-dalam. Menjadi anak durhaka sejenak karna mengutuk dan memaki ibuku sendiri. Aku takkan pernah lagi mau membantunya. Aku takkan pernah mau mengurusnya ketika dia tua nanti. Ketika dia sudah renta dan tak bisa lagi apa-apa. Aku akan membuangnya. Aku benci dia. Aku akan menyakitinya seperti dia menyakitiku sekarang. Bodoh benar aku berpikir bahwa dia sayang padaku. Bahwa dia perhatian padaku. Bodoh benar aku sudah merasa ge-er. Bagaimana bisa dia menyakiti anaknya yang masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Aku benci dia.
Benci!!!
Samar-samar dalam kantukku terdengar suara-suara yang pernah kudengar sebelumnya. Berasal dari ruang tamu yang hanya dibatasi tembok retak dari kamarku. Penasaran. Jahilku datang. Aku rekatkan daun telingaku ke dinding tembok. Ada suara pria dan wanita. Suara wanita yang sangat kukenal. Suara pria yang juga sangat kukenal. Ibu dan bapak? Mereka berbincang bincang tanpa dapat kudengar apa yang mereka bicarakan. Sedikit berbisik. Seringkali terdengar sentakan dan tawa bapak. Membuat aku terbingung-bingung. Sedang apa mereka. Mengapa mereka masih bersama setelah perpisahan dua tahun lalu. Ketika bapak lebih memilih perempuan itu daripada ibu. Aku menutup mulutku rapat hingga terkadang menahan nafasku. Takut-takut terdengar dan memecah keheningan disana. Iya disana kini benar-benar hening. Lalu lagi terdengar suara tawa bapak yang menghilang bersamaan dengan suara pintu yang dibuka lalu ditutup kembali. Kini hanya ada lenguhan ibu disertai isakan. Iya, dia mengisak. Ibuku sedang menangis. Apakah dia baik-baik saja. Dia kenapa. Apakah bapak tadi memukulnya seperti dulu. Aku ingin kesana memeluknya. Tapi pasti dia akan marah, lagipula aku masih terkunci disini. Oh ibu…kasihan ibu…
Aku menyesal lagi telah memakinya. Tidak seharusya aku begitu. Mendengarnya menangis membuatku kalah dengan ego. Bagaimanapun dia yang membawaku ke dunia ini. Bagaimanapun dia yang menyusuiku. Bagaimanapun dia yang memberiku makan. Bagaimanapun dia pasti menyayangiku. Bagaimanapun aku pasti menyayangi dia. Bagaimanapun itu.
Pintu kamarku dibuka olehya. Aku pura-pura tertidur. Memejamkan mata dan menarik sarung yang kujadikan selimut. Dia mendekatiku. Memeluk tubuhku. Mencium-ciumi kepalaku. Dibelai-belainya rambutku. Aku ingin balas memeluk namun aku gengsi. Aku ingin menangis namun aku maĺu. Aku ingin bertanya “kenapa” namun aku takut. Lagipula aku juga sedang berpura-pura tertidur. Dia menangis. Aku mendengarnya. Lama sekali dia memelukku hingga akhirnya aku benar-benar terlelap dengan pipis yang tertahan.
Pagi sekali dia sudah bangun. Hari ini aku tidak sekolah karna seragam dan sepatuku yang benar-benar masih basah. Ibu sudah menyediakan singkong goreng di atas meja. Dia sudah bersiap hendak pergi.
“ Mau kemana bu? Bukannya udah nggak kerja?”
“ Mau cari kerjalah.”
Dia mengeluarkan uang lima ribu dari kantongnya. Diberikan padaku, katanya untukku makan siang sampai malam nanti. Dia akan pulang agak malam hari ini. Dari mana uang ini? Bukankah dia tak lagi pegang uang sepeserpun kemarin malam? Namun aku hanya menyimpan pertanyaan dalam hati. Aku tak ingin dia kalap lalu gelap mata pagi-pagi begini. Aku mencium tangannya ketika dia menyodorkan dan memandangnya menghilang di ujung jalan.
Ohh….tidak! surat itu.
Aku mencarinya di jejeran buku yang kukeringkan. Ada dan tidak musnah seperti harapanku. Tapi untuk apa. Rasanya tidak mungkin kuserahkan ini pada ibu di saat-saat seperti ini. Tapi bagaimana aku harus bertangung jawab pada ibu guru. Kenapa begitu banyak pertanyaan bagaimana yang tak dapat kujawab. Baiklah, nanti sepulangnya ibu ke rumah aku akan menyerahkan surat itu. Tapi, kasihan ibu. Ibu pasti lelah. Ibu juga bisa saja naik pitam.
Aku ingin menjelaskan pada ibu guru tentang bagaimana keadaanku. Bagaimana caranya. Aku malu. Aku merobek secarik kertas dari buku dan mengambil pensil. Ibu guru berkomunikasi dengan ibuku lewat surat. Apa salahnya aku mengikuti caranya, berkomunikasi dengannya lewat surat. Aku ingin ibu guru tahu apa yang kurasa. Siapa tahu saja ibu guru akan berhenti mengirimi surat pada ibuku setiap tiga bulan sekali yang menyebabkan aku terjengkang dan berakhir dengan tangisan ibuku di kamarnya.
Tapi apa saja yang harus kutulis. Apa saja yang aku ingin ibu guru ketahui.
Pertama harus kukatakan bahwa ibuku sudah tak bekerja.
Kedua adalah tentang ketidaksanggupanku untuk menyerahkan surat ini ditengah kesulitannya.
Ketiga adalah aku berjanji jika sudah ada uang akan kubayar tunggakan uang sekolahku atau jika perlu akan kucicil dengan uang makanku.
Aku segera menulis kata-katanya di atas kertas yang masih agak lembab akibat kehujanan kemarin. Tidak perlu menggunakan amplop. Ibu guru pasti menerima. Aku bubuhi sedikit tanda tanganku di bawahnya. Tanda tangan ala kadarnya.
Tidak sabar aku menunggu besok saat ke sekolah. Sambil menunggu, aku kembali mengeringkan perlengkapan sekolahku. Membeli gorengan empat buah untuk makan malam. Membeli nasi dengan kuah rendang di warung padang uda eko untuk makan siang.
Ibu pulang agak larut dan langsung menyuruhku pergi tidur. Karna tahu ibu lelah maka aku menurut saja. Kasihan ibu kalau harus marah-marah lagi karna aku. Tapi lagi-lagi ibu mengunciku dari luar. Namun tidak seperti malam kemarin. Malam ini tidak ada suara bapak dan malam ini ibu tidak menemaniku tidur. Hanya membuka pintu kamarku dengan tanpa masuk ke dalam. Pasti ibu kelelahan. Kasihan ibu.
***
Pagi ini di sekolah. Aku membawa serta surat yang kemarin kutulis untuk ibu guru dan surat yang dititipkan ibu guru untuk ibuku. Aku berniat mengembalikan surat itu kepadanya dan berharap semoga ibu guru dapat maklum setelah membaca surat dariku. Sepanjang jam pelajaran aku terus menimbang-nimbang, aku sebenarnya takut menyerahkan dua surat itu pada ibu guru. Takut ibu guru tidak mau mengerti dan mengembalikan surat itu lalu menyuruhku menyerahkan surat lagi pada ibuku. Jika seperti itu aku tak dapat lagi mengelak. Disamping itu aku juga malu. Entah kenapa aku malu. Aku mungkin malu karna tak punya uang. Aku juga malu karna akan terlihat seperti benar-benar mengemis karna isi surat yang kubuat.
Disana, di dalam bak sampah itu kedua surat yang semula kugenggam kini berada. "Maaf" gumamkundalam hati seraya memalingkan wajah mengalihkan pandangan. Berpura-pura tak ingat agar tak ada rasa bersalah. Lalu bergegas pulang dengan lunglai.
"Besok bayar uang SPP."
"Bu??" belum sempat aku meletakkan tas, ibu menyodorkan tiga lembar uang ratusan ribu sambil berlalu menuju dapur.
"Ibu jadi satpam di tokonya bapak sekarang." ucapnya sedikit terbata dari dapur.
Ibu.., ia tak perdulikan diri dan hatinya sendiri untuk memperdulikanku.
Ketika rangkaian kata mengisahkan cerita hidup. Ketika goresan pena melukiskan sebuah kisah.
Selasa, 19 Januari 2016
Surat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar