Malam itu bapak masuk ke dalam kamar dimana Salimah sedang terlelap tidur. Bapak duduk di sisi tempat tidur. Membelai kepala Salimah dengan lembut seraya berkata lirih meminta maaf pada putri semata wayangnya itu.
"Maafin bapak, Salimah."
Hati Salimah sakit. Ia tak mampu membuka mata apalagi mengucap kata. Ia tak mampu menahan air matanya. Dalam hatinya ia tahu ini bukan salah bapaknya. Perceraian itu terjadi lantaran ia tak mampu mencegah ibunya bergaul terlalu intim dengan lelaki lain. Sialnya, ia pun tak mampu meminta pertolongan bapaknya. Karna di matanya ada bayang-bayang perceraian kedua orang tuanya jika bapaknya mengetahui ketidaksetiaan ibunya. Tapi itu harus dicegah dengan tutup mulut. Dan ternyata dia salah. Ternyata kebohongan, cepat atau lambat akan ketahuan. Maka perceraian itu pun benar-benar terjadi.
Salimah tahu apa yang harus dia lakukan terhadap sehelai kain persegi merah muda di hadapannya. Tanpa buang waktu ia segera menudungi rambut kuncir kuda kesayangannya. Tapi belum juga lima menit ia menatap dirinya di cermin, tangannya sudah gatal menarik kerudung itu. Huhhh..Salimah belum juga mantap rupanya.
"Aku nggak terlihat cantik kalau rambutku ditutup." Cermin rias lonjong dihadapannya menangkap kegelisahan di wajah oval Salimah.
"Nanti aja deh kalau udah siap."
Salimah meraih tas jinjing di atas tempat tidurnya. Siang ini ia ada kelas matematika di kampus. Ia tak menyentuh telur dadar yang sudah disiapkan bapaknya sedari pagi. Takut kesiangan, batinnya.
"Sal, papahku kritis." Widya memeluk Salimah. Ia tak menangis saat itu namun wajah sembab serta mata kodoknya menunjukkan jika ia sudah kenyang menangis semalaman.
Salimah membalas pelukan Widya. Ia tidak tahu apa kata yang harus terucap dari bibirnya. Lidahnya kelu teringat bapaknya sendiri. Satu-satunya keluarga yang ia miliki setelah ibunya menikah lagi dengan lelaki lain. Seseorang yang sangat ia cintai. Ia tak terbayang bagaimana perasaannya jika bapaknya kritis seperti papah Widya.
"Aku nggak tahan lihat papak kesakitan jadi mendingan aku datang ke kampus aja."
"Dokter bilang apa?"
Widya mengangkat bahu. Mengusap setetes air mata yang mengalir di pipinya.
"Aku nggak tahu. Yang aku tahu papah kritis. Mamah udah panggil pendeta ke rumah sakit."
"Selesai kelas statistik kita jenguk yuk."
Widya mengangguk setuju.
Dibalik jendela kaca itu terbaring seorang pria tua yang jauh lebih gemuk dari bapaknya Salimah. Ia bernafas dengan bantuan oksigen dan ditubuhnya ditempeli beberapa kabel yang terhubung ke sebuah mesin.
Salimah duduk di ruang tunggu. Disana ada mamahnya Widya yang meski tak mampu menutupi raut kelelahan dan sisa-sisa tangisan di wajahnya namun berusaha tetap tegar. Disana juga ada keluarga besar Widya, mereka sedang membentuk sebuah lingkaran sambil berdoa untuk kesembuhan papah Widya.
"Mamah nggak pulang-pulang sejak papah masuk rumah sakit. Udah sekitar seminggu." Kata Widya setelah doa selesai dilakukan.
Salimah tiba-tiba teringat bapaknya. Beberapa waktu lalu bapaknya sakit, tekanan darahnya tinggi. Kala itu tidak ada sosok istri yang merawat. Hanya ada ia, itupun seringkali harus meninggalkan bapaknya karna sedang ujian. Terkadang bapaknya merebus timun sendiri untuk menurunkan tekanan darahnya. Terkadang juga bapaknya harus pergi berobat sendiri ke dokter. Salimah terhanyut dalam kesedihannya.
"Aku nggak mau papah cepat-cepat pergi. Aku belum sempat ngebahagiain papah."
Salimah mendekap Widya dalam pelukannya. Sahabatnya kembali sesenggukan dengan tangisannya. Salimah tak mampu berkata-kata. Ia malah kembali teringat akan bapaknya sendiri. Ia tak mau mengalami apa yang terjadi pada Widya. Ia tak mau terlambat apalagi tak sempat membahagiakan bapaknya.
"Assalamualaikum." Ucap Salimah sambil membuka pintu rumahnya.
"Waalaikumsalam." Salimah mencium punggung tangan bapaknya. Lalu duduk di sebelahnya. Bapaknya sedang mengoreksi kertas ulangan murid-muridnya.
"Makan dulu, bapak buat sayur lodeh sama ayam goreng."
"Pokoknya mulai hari ini bapak nggak boleh ngerjain semua kerjaan rumah. Salimah aja yang ngerjain."
Bapak Salimah menatap putri kesayangannya itu dengan penuh rasa heran. Namun kemudian ia kembali tersenyum. Rupanya ia memahami betul apa yang mungkin sedang dipikirkan oleh putrinya.
"Kamu itu masih tanggung jawab bapak. Dunia akhirat. Kalau kamu terlampau sibuk atau sakit nggak sempat masak sampai kelaparan. Nggak mungkin bapak diam. Itu nggak benar. Kita jadi tim aja seperti selama ini. Saling bantu mengurus rumah. Bapak masih sehat kok dan bapak ikhlas. Kalau bapak udah nggak bisa, baru deh kamu yang urus bapak. Boleh?"
Salimah tak berkata-kata. Hanya matanya berkaca-kaca. Sekuat tenaga ia menahan haru. Ia mengulas senyum sambil mengangguk pasti. Lalu bergegas kembali ke kamarnya.
Salimah meraih jilbab persegi merah muda yang tadi pagi dilipatnya. Menudungi kepalanya, ia menatap dirinya dalam cermin. Kini ia telah mantap untuk membahagiakan bapaknya. Dunia akhirat. Dengan menutup aurat dengan harapan membawa bapaknya ke surga kelak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar